MINAHASA – Tim Penelitian Bestari Saintek 2026 Universitas Negeri Manado (UNIMA) bersama Pemerintah Kabupaten Minahasa menggelar Sosialisasi dan Penyamaan Persepsi Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) Tahun 2026.
Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Sidang Kantor Bupati Minahasa dan menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, kelompok tani, serta pelaku usaha dalam pengembangan pertanian berbasis teknologi yang produktif dan ramah lingkungan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Minahasa, Dr. Lynda D. Watania, MM, M.Si., saat membacakan sambutan Bupati Minahasa Dr. Robby Dondokambey, S.Si., M.AP., dan Wakil Bupati Minahasa Vanda Sarundajang, S.S., M.A.P., menyambut baik pelaksanaan program tersebut.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Minahasa, saya menyampaikan selamat datang. Bestari Saintek merupakan program penting bagi masyarakat dan inovasi,” kata Lynda.
Menurut Sekda, program Bestari Saintek diharapkan mampu mempertemukan hasil-hasil akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat di Kabupaten Minahasa.
“Saya berharap program Bestari Saintek ini menjadi program yang mempertemukan dunia akademik dengan kebutuhan yang ada di masyarakat Kabupaten Minahasa,” ujarnya.
Ia menegaskan, hasil penelitian tidak boleh berhenti di ruang akademik maupun ruang rapat, tetapi harus dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Hasil akademik tidak hanya berada di ruang-ruang akademik ataupun ruang rapat hari ini, melainkan hasilnya dapat dipakai di lapangan, khususnya memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” tegas Lynda.
Sekda juga mengajak kelompok tani, termasuk Kelompok Tani Tumaar Ne Pemuda, petani, serta pelaku usaha untuk bersama-sama menyusun rencana pengembangan pertanian yang memanfaatkan teknologi.
Pemanfaatan teknologi tersebut, kata Sekda, diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, kualitas dan hasil pertanian, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“Pemerintah Kabupaten Minahasa terus mendorong ketahanan pangan, termasuk pemanfaatan lahan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Gerakan pangan merupakan langkah strategis dan apabila dilakukan secara bersama-sama dapat memberikan dampak besar bagi ketahanan pangan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan sosialisasi dan penyamaan persepsi menjadi momentum untuk membangun komunikasi, menyatukan tujuan, serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi, khususnya para peneliti UNIMA.
“Kegiatan sosialisasi dan penyamaan persepsi menjadi sebuah momentum dalam membangun komunikasi, menyatukan tujuan serta memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi, khususnya peneliti Universitas Negeri Manado dan Kelompok Tani Tumaar Ne Pemuda,” tambah Lynda.
“Saya percaya kolaborasi yang kuat, ilmu pengetahuan, teknologi yang sesuai dan semangat gotong royong dapat menjadi kekuatan dalam membangun Minahasa yang lebih maju, mandiri dan sejahtera,” pungkasnya.
Di sisi lain, Ketua Tim Penelitian Bestari Saintek 2026 UNIMA, Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si., memaparkan materi penelitian yang dipandu oleh moderator, Dosen Fakultas Teknik (FT) UNIMA, Dr. Mario Tulenan Parinsi, S.Kom., MTI.
Dalam pemaparannya, Prof. Orbanus menjelaskan bahwa sosialisasi dan penyamaan persepsi dilakukan untuk memastikan seluruh pihak memahami tujuan, tahapan, serta target penelitian yang akan dilaksanakan.
Guru Besar Fakultas Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Kebumian (FMIPAK) UNIMA yang akrab disapa Prof Orba tersebut memaparkan berbagai parameter pengamatan dalam penelitian bertajuk “Aplikasi Teknologi Intermittent Irrigation untuk Mitigasi Gas CH4 pada Budidaya Padi Sawah.”
Menurut Prof Orba, teknologi intermittent irrigation atau pengairan berselang menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi emisi gas metana (CH4) dari lahan persawahan.
“Penelitian ini tidak hanya berbicara mengenai peningkatan produktivitas pertanian, tetapi bagaimana teknologi dapat diterapkan untuk menghasilkan sistem pertanian yang produktif sekaligus ramah lingkungan,” ujar Naharia.
Ia mengatakan, hasil penelitian nantinya akan didiseminasikan melalui Program Mitigasi Gas CH4 untuk mendukung ketahanan pangan nasional yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Prof Orba menilai kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Minahasa membuka peluang besar untuk menjadikan kawasan penelitian sebagai contoh pengembangan pertanian ramah lingkungan.
“Penelitian ini menjadi peluang besar bagi Pemerintah Kabupaten Minahasa karena kita membangun sebuah model pertanian ramah lingkungan yang produktif, tetapi tetap menjaga kualitas lingkungan. Salah satu fokusnya adalah bagaimana mengurangi emisi gas metana dari budidaya padi sawah,” sebutnya.
Ia berharap hasil penelitian tersebut tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi dapat menjadi ilmuii yang dapat direplikasi di daerah lain.
“Harapan kami, apa yang dilakukan di Minahasa ini dapat menjadi pilot project pertanian ramah lingkungan di Indonesia, sehingga ilmui pengetahuan dan teknologi benar-benar hadir untuk menjawab kebutuhan petani sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional,” tutup Naharia.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Asisten II Setdakab Minahasa Dr. Aroudy A. Tangkere, M.AP., Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Minahasa Dr. Margaretha Ratulangi, serta anggota tim penelitian Dr. Utari Satiman, S.P., M.Si., Dr. Ir. Marthy L.S. Taulu, M.Si, Herman Dolonseda, S.Pd., M. Pd, Sekretaris Tirza Selfin Korneles, S.Pd., M.Si., dan Bendahara Ever Kamito Kajo, S.P.,
Hadir juga Kelompok Tani Tumaar Ne Pemuda, perwakilan Reportase Kawanua, para camat, serta lurah se-Kabupaten Minahasa.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, peneliti dan masyarakat dalam mewujudkan inovasi pertanian yang produktif, efisien, berkelanjutan, serta berorientasi pada pelestarian lingkungan.
(Abner)





