MINAHASA – Guru Besar Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH), Universitas Negeri Manado (UNIMA), Prof. Dr. Apeles Lexi Lonto, M.Si., menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMP Negeri 1 Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Penguatan Pendidikan Karakter dalam Upaya Pencegahan Radikalisme di SMP Negeri 1 Kawangkoan Kabupaten Minahasa.”
PKM ini dilaksanakan selama periode April hingga September 2026. Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNIMA sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pendanaan PNBP Tahun 2026.
Prof. Lexi Lonto mengatakan, penguatan pendidikan karakter membutuhkan perubahan pendekatan dalam proses sosialisasi, khususnya dari pola komunikasi satu arah menuju dialog yang melibatkan peserta didik secara aktif.
“Transformasi paradigma sosialisasi, dari ceramah satu arah ke dialog partisipatif, menjadi salah satu pendekatan penting dalam kegiatan ini,” kata Prof. Lexi Lonto.
Menurut dia, pendekatan tersebut dilakukan melalui pemetaan sosial dan kognitif, metode dialogis dan partisipatif, refleksi kritis, serta bedah fenomena radikalisme.
“Dengan pendekatan ini, kita ingin meningkatkan keterlibatan emosional dan intelektual siswa sehingga mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi mampu memahami dan mengkritisi berbagai fenomena yang berkembang di lingkungan mereka,” ujarnya.
Prof. Lexi Lonto juga menekankan pentingnya pemberdayaan guru sebagai garda terdepan dalam melakukan deteksi dini terhadap potensi berkembangnya paham radikalisme di lingkungan sekolah.
Pemberdayaan tersebut dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) dan lokakarya intensif yang membahas modus rekrutmen radikalisme, identifikasi perubahan perilaku siswa, serta strategi pendekatan yang tepat.
“Guru perlu dibekali kemampuan untuk mengenali perubahan perilaku siswa dan memahami berbagai modus rekrutmen radikalisme. Pendekatannya harus humanis, personal dan empatik,” kata dia.
Ia menambahkan, guru juga perlu memiliki kepercayaan diri serta keterampilan yang memadai untuk menghadapi persoalan tersebut.
Selain pendekatan dialogis, kegiatan PKM ini juga mendorong internalisasi nilai-nilai kearifan lokal kepada siswa.
Menurut Prof. Lexi Lonto, pendidikan karakter akan lebih mudah diterima ketika dikaitkan dengan nilai budaya yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Metode yang digunakan antara lain storytelling, simulasi peran, diskusi kelompok dan refleksi budaya.
“Nilai-nilai kearifan lokal Minahasa seperti Mapalus dan semangat persaudaraan yang tercermin dalam nilai-nilai kebersamaan dapat menjadi modal sosial dalam merawat keberagaman,” jelasnya.
Siswa juga diarahkan untuk mampu menghadapi konflik, ujaran kebencian, serta berbagai informasi provokatif yang beredar di media sosial.
Program tersebut juga mendorong pembentukan kader “Duta Toleransi” sebagai bagian dari pengembangan ekosistem sebaya di lingkungan sekolah.
Perwakilan dari setiap kelas akan diberikan pembekalan mengenai kepemimpinan, komunikasi damai dan literasi digital.
“Duta Toleransi diharapkan menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah, termasuk melalui kampanye inklusif dan menjadi moderator dalam diskusi-diskusi yang membangun,” ujar Prof. Lexi Lonto.
Menurut dia, pembentukan ekosistem sebaya penting karena lingkungan sosial siswa memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan sikap dan karakter.
Prof. Lexi Lonto mengatakan, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari terlaksananya kegiatan sosialisasi, tetapi juga dari perubahan sikap dan iklim sosial di lingkungan sekolah.
Evaluasi diarahkan pada peningkatan kesadaran kritis siswa, kemampuan menyaring informasi, serta kemampuan untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memicu konflik.
“Indikator yang kita harapkan adalah meningkatnya kesadaran kritis siswa, mereka mampu menyaring informasi dan tidak mudah terprovokasi,” katanya.
Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan dapat menciptakan atmosfer sekolah yang lebih cair, inklusif dan saling menghargai, sekaligus menekan potensi konflik antarsiswa.
“Harapannya terjadi penurunan konflik antarsiswa secara signifikan dan tercipta lingkungan sekolah yang lebih aman, inklusif dan toleran,” tambahnya.

Prof. Lexi Lonto berharap kegiatan PKM tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan program selama periode April hingga September 2026.
Ia berharap penguatan pendidikan karakter dan pencegahan radikalisme dapat menjadi proses berkelanjutan yang melibatkan guru, siswa, sekolah, orang tua dan lingkungan masyarakat.
“Harapan kami, PKM ini terus berlangsung dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan, sehingga nilai-nilai toleransi, kebersamaan dan karakter kebangsaan benar-benar menjadi bagian dari kehidupan siswa sehari-hari,” pungkas Lonto.
(Abner)





