MINAHASA – Universitas Negeri Manado (UNIMA) menggelar pencanangan aplikasi teknologi intermittent irrigation sekaligus melakukan pengambilan sampel gas metana (CH₄) di lokasi penelitian Bestari Saintek UNIMA, Jalan Boulevard Kompleks Persawahan, Kelurahan Koya, Kecamatan Tondano Selatan, Kabupaten Minahasa, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Riset Program Bestari Saintek (Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi) tahun 2026.
Program Bestari Saintek diinisiasi oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Dit. Minat Saintek), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dengan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Pelaksanaan riset ini melibatkan Pemerintah Kabupaten Minahasa sebagai mitra utama. Penelitian berfokus pada aplikasi teknologi intermittent irrigation atau pengairan berselang pada lahan persawahan sebagai salah satu upaya mitigasi emisi gas metana (CH₄) yang dihasilkan dari aktivitas budidaya padi sawah.
Teknologi tersebut diterapkan di kawasan persawahan Koya, Tondano, untuk memperoleh data ilmiah mengenai pengaruh sistem pengairan berselang terhadap emisi gas metana. Hasil penelitian diharapkan dapat mendukung pengembangan pertanian yang lebih produktif sekaligus ramah lingkungan.
Riset ini juga menjadi bagian dari upaya UNIMA bersama Pemerintah Kabupaten Minahasa untuk mendorong pemanfaatan sains dan teknologi dalam menjawab persoalan lingkungan, khususnya emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian.
Rektor UNIMA, Dr. Joseph Philip Kambey, SE.,MBA., Ak., mengatakan penelitian tersebut penting karena lahan persawahan merupakan salah satu sumber emisi gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global.
“Program penelitian Bestari Saintek UNIMA ini merupakan penelitian di persawahan yang memiliki gas metana yang akan berkontribusi terhadap pemanasan global,” ujar Kambey.
Menurut dia, penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai langkah mitigasi efek rumah kaca dari lahan persawahan.
“Dengan penelitian ini kita dapat melihat mitigasi pemanasan efek rumah kaca di lahan sawah untuk mengurangi gas metana. Ini hal yang sangat penting karena penelitian ini merupakan penelitian yang pertama kali di Indonesia yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Minahasa sebagai mitra utama,” katanya.
Kambey berharap hasil penelitian tersebut nantinya dapat menjadi model yang diterapkan di berbagai wilayah Indonesia yang memiliki lahan persawahan.
“Ke depannya akan menjadi contoh bagi semua wilayah di Indonesia yang memiliki persawahan. Ketika output penelitian ini sudah keluar, maka kita akan meminta untuk melakukan audiensi dengan Menteri Pertanian,”jelas kambey.
“Kami berharap mendapatkan bantuan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk diseminasi hasil penelitian ini,” pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Minahasa, Dr. Robby Dondokambey, S.Si., MAP, mengatakan pencanangan aplikasi teknologi intermittent irrigation merupakan bagian dari upaya mendorong transformasi pertanian di daerah.
“Kegiatan ini bukan sekadar pencanangan teknologi, tetapi merupakan langkah nyata dalam membangun pertanian yang lebih modern, efisien, produktif, dan berkelanjutan,” ujar Dondokambey.
Bupati Minahasa mengatakan inovasi dalam sektor pertanian perlu berjalan beriringan dengan perhatian terhadap lingkungan.
“Dengan demikian, inovasi pertanian tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan upaya pengurangan emisi dan kelestarian lingkungan,” jelasnya.
Ketua Tim Peneliti Bestari Saintek UNIMA sekaligus Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan Kebumian (FMIPAK) UNIMA, Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si., mengatakan pencanangan intermittent irrigation menjadi salah satu tahapan penting dalam pelaksanaan riset.
Menurut Orbanus, teknologi pengairan berselang tersebut diterapkan untuk melihat pengaruh pola pengairan terhadap kondisi lahan sawah, khususnya dalam kaitannya dengan produksi dan emisi gas metana.
“Pengambilan sampel gas metana dilakukan untuk memperoleh data ilmiah mengenai emisi yang dihasilkan dari lahan persawahan. Data tersebut selanjutnya akan dianalisis untuk mengetahui efektivitas penerapan teknologi intermittent irrigation dalam upaya mitigasi emisi gas metana,” kata Naharia.
Ia berharap hasil penelitian dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan teknologi pertanian yang ramah lingkungan sekaligus menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan di sektor pertanian.
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pimpinan UNIMA, di antaranya pimpinan Senat UNIMA, para Wakil Rektor, Direktur Pascasarjana, para Dekan Fakultas, Kepala Lembaga, Ketua UPA, para peneliti Bestari Saintek UNIMA, serta mahasiswa FMIPAK, khususnya dari Jurusan dan Program Studi Biologi.
Turut hadir jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Minahasa sebagai mitra utama dalam pelaksanaan penelitian Bestari Saintek UNIMA 2026.
(Abner)







