MINAHASA – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Manado (UNIMA) menggelar Pembekalan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNIMA Gelombang II Tahun 2026 di Auditorium Maria Walanda Maramis, UNIMA.
Kegiatan pembekalan diawali dengan ibadah bersama yang dipimpin Pdt. Malchia Lumanaw, S.Th., Gembala Sidang GESBA “Filadelfia Kanaka”.
KKN Gelombang II Tahun 2026 mengusung tema “KKN UNIMA Berdampak, Terus Berkarya, Menginspirasi dan Unggul.”
Sebanyak 1.257 mahasiswa dari tujuh fakultas di UNIMA mengikuti KKN Gelombang II Tahun 2026. Mereka terdiri atas 620 mahasiswa KKN Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan 637 mahasiswa KKN Reguler.
Diketahui, Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) sebanyak 543 mahasiswa, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) 228 mahasiswa, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) 172 mahasiswa, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Masyarakat (FIKKM) 130 mahasiswa, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) 83 mahasiswa, Fakultas Teknik (FT) 73 mahasiswa, serta Fakultas Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Kebumian (FMIPAK) 28 mahasiswa.
Para mahasiswa akan melaksanakan KKN di sejumlah wilayah, yakni Kabupaten Minahasa sebanyak 253 mahasiswa, Kota Tomohon 116 mahasiswa, Kabupaten Minahasa Selatan 26 mahasiswa, Kabupaten Minahasa Utara 35 mahasiswa, Kota Manado 25 mahasiswa, Kota Bitung 10 mahasiswa, serta 762 mahasiswa melaksanakan KKN di dalam kampus.
Kepala LPPM UNIMA, Dr. Armstrong Sompotan, M.Si., mengatakan pelaksanaan KKN merupakan bagian dari upaya UNIMA menghadirkan mahasiswa yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu memberikan dampak bagi masyarakat.
Menurut Dr Armstrong, pelaksanaan KKN juga diarahkan untuk menunjang program Rektor UNIMA, Dr. Joseph Philip Kambey, terkait pengembangan UNIMA sebagai kampus yang berdampak, unggul, inspiratif, dan inovatif.
“Untuk itulah KKN ini dilaksanakan, untuk memberikan kepada mahasiswa kesempatan untuk terus berdampak, baik bagi kampus maupun masyarakat. Juga berdampak untuk memberdayakan masyarakat agar maju dan sejahtera,” ujar Kepala LPPM UNIMA.
Dr Armstrong juga mengingatkan mahasiswa agar memperhatikan aspek keamanan dan kondisi lingkungan selama berada di lokasi KKN.
Terlebih, kata dia, saat ini sejumlah wilayah sedang menghadapi musim panas atau kemarau yang dapat berdampak terhadap ketersediaan air bahkan listrik.
Ia meminta mahasiswa yang melaksanakan KKN di luar kampus mengikuti ketentuan dan rekomendasi pemerintah setempat, termasuk rekomendasi dari lurah atau hukum tua terkait lokasi dan tempat tinggal mahasiswa.
“Rekomendasi dari lurah atau hukum tua itu merupakan jaminan keamanan dan tempat tinggal dari pemerintah setempat,” katanya.
Dr Armstrong juga berpesan agar mahasiswa menjaga kesehatan dan keselamatan selama menjalankan program KKN.
“Harapan orang tua adalah kalian menjadi sarjana. Jadi, tolong baik-baik di lokasi, terlebih yang di luar kampus, Jagalah Kesehatan dan jaga juga nama baik UNIMA” pesan Kepala LPPM UNIMA.
Ia berharap mahasiswa dapat menyelesaikan KKN dengan baik sekaligus menjaga nama baik almamater selama berada di tengah masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Armstrong juga mengapresiasi keterlibatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNIMA dalam rangkaian kegiatan mahasiswa.
Menurut dia, keterlibatan BEM sejak kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) hingga KKN merupakan hal positif yang dapat menjadi tradisi dalam mendampingi mahasiswa.
“Kalau dulu BEM mengawali di PKKMB, sekarang BEM mengakhiri di KKN. Ini bagus. Kiranya ini menjadi suatu tradisi baru yang sangat baik,” ujarnya.
Ia berharap KKN Gelombang II Tahun 2026 dapat memberikan dampak nyata sekaligus menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mewujudkan UNIMA yang berdampak, unggul, dan inovatif.
Pembekalan Mahasiswa KKN UNIMA Gelombang II Tahun 2026 dibuka secara langsung oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik UNIMA, Prof. Dr. Mister Gideon Maru, S.S., M.Hum.
Prof Gideon mengatakan pelaksanaan KKN tahun ini memiliki arti penting karena pembekalan diawali dengan ibadah bersama. Ia juga menekankan pentingnya orientasi pada luaran atau outcome dalam pelaksanaan KKN, khususnya program KKN MBKM.
“Dalam KKN MBKM ini akan lebih kepada berbasis OBE (Outcome-Based Education), artinya kita berbasis luaran,” ujar Gideon.
Menurut dia, mahasiswa tidak hanya dituntut menjalankan kegiatan selama berada di lokasi KKN, tetapi juga mampu menghasilkan produk atau luaran yang dapat memberikan manfaat.
“Ketika melaksanakan KKN ini, ada produk, ada luaran yang dihasilkan. Jadi outcome-based, basisnya adalah luarannya. Itu yang menjadi bagian penting dari KKN ini,” katanya.
Prof Gideon juga mengingatkan bahwa konsep berdampak tidak semata-mata dimaknai sebagai kegiatan mahasiswa ketika berada di luar kampus. Menurut dia, setiap tindakan positif yang dilakukan mahasiswa di lingkungan kampus juga dapat memberikan dampak.
“Berdampak itu bukan dalam pengertian ayo kita keluar baru berdampak, tetapi kita mengerjakan yang benar di dalam kampus, itu membawa dampak yang jauh lebih kuat,” ujarnya.
Kepada mahasiswa yang akan ditempatkan di berbagai daerah, Prof Gideon berpesan agar peserta KKN daapat menjaga nama baik UNIMA.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa KKN merupakan representasi almamater ketika berada di tengah masyarakat.
“Ketika kita turun ke lapangan, maka kita adalah orang-orang yang berbeda. Teman-teman datang membawa pesan yang berbeda. Jaga nama baik UNIMA semasa KKN,” katanya.
Prof Gideon kemudian mengutip Efesus 6:10 sebagai penguatan bagi mahasiswa sebelum menjalankan tugas pengabdian di tengah masyarakat.
“‘Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya’,” kata Gideon mengutip Efesus 6:10.
Ia juga mengingatkan mahasiswa bahwa selama berada di lokasi KKN, peserta KKN akan menjadi representasi terbuka dari UNIMA.
“Teman-teman adalah surat-surat terbuka dari UNIMA. UNIMA mengutus teman-teman ke desa-desa, tempat-tempat yang jauh. Teman-teman bawa pesan kampus,” ujarnya.
Prof Gideon mengajak mahasiswa menjalankan KKN dengan kedewasaan, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi dengan masyarakat.
“Kami tidak bisa mendampingi teman-teman 24 jam di lokasi, tetapi kami percaya kepada teman-teman. Kami percaya penuh bahwa you are mature enough and capable enough untuk terjun di lapangan,” katanya.
Melalui pembekalan tersebut, UNIMA berharap mahasiswa mampu menjalankan KKN secara bertanggung jawab, menghasilkan luaran yang bermanfaat, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan tempat mereka melaksanakan pengabdian.
Dalam kesempatan tersebut turut hadir Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UNIMA, para dekan, kepala lembaga, Kepala UPA, kepala biro, dosen pembimbing lapangan, serta staf dan pegawai LPPM UNIMA.
(Abner)






