Minahasa Utara – Universitas Negeri Manado (UNIMA) menggelar kegiatan Pencanangan Desa Binaan di Desa Paputungan dan Tanah Putih di Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, sebagai implementasi Pengabdian kepada Masyarakat, Jumat (17/4/2026).
Ketua Panitia Prof. Dr. Sherly Lensun, M.Pd., dalam sambutannya mengatakan bahwa Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mencanangkan Desa Paputungan dan Desa Tanah Putih sebagai Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni berbasis Sustainable Development Goals (SDGs), dengan fokus utama pada SDG 5 yaitu kesetaraan gender, serta terintegrasi dengan lima pilar DGS 5: pemberantasan kemiskinan, pendidikan berkualitas,
kemitraan, gender, dan inovasi.
“Desa Paputungan dan Tanah Putih yang berada di Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, adalah kawasan strategis pengembangan pariwisata nasional dan berdekatan dengan Kawasan Ekonomi Khusus Likupang. Desa Paputungan dikenal dengan pengembangan Desa Wisata Paputungan serta kawasan pesisir Tanah Putih Kelapa Lima. Sedangkan Desa Tanah Putih memiliki keterkaitan sosial-ekonomi yang kuat dengan kawasan pesisir pariwisata. Kehadiran investasi pariwisata, termasuk pembangunan hotel berbintang lima oleh Marriott International, semakin memperkuat peluang ekonomi masyarakat sekaligus menuntut kesiapan sumber daya manusia yang kompeten,” jelas Prof. Dr. Sherly Lensun, M.Pd.
Ketua Panitia melanjutkan, namun demikian, masyarakat desa masih menghadapi berbagai keterbatasan, antara lain rendahnya literasi dan pendidikan berbasis keterampilan, keterbatasan penguasaan bahasa asing, belum optimalnya pengembangan ekonomi kreatif, serta minimnya pemberdayaan perempuan. Oleh karena itu, program ini menggunakan pendekatan Assets-Based Community Development (ABCD) yang menekankan pemanfaatan potensi lokal sebagai kekuatan utama dalam pemberdayaan masyarakat. Kegiatan utama meliputi pencanangan desa binaan melalui penandatanganan MoU serta pelaksanaan demonstrasi program dari berbagai jurusan, yaitu;
Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Asing (Bahasa
Jepang, Bahasa Jerman, dan Bahasa Prancis), Pendidikan Seni Rupa dan Kerajinan, serta Program Studi Seni Musik. Program ini juga menekankan pemberdayaan perempuan, penguatan ekonomi kreatif, serta peningkatan kesiapan masyarakat dalam menghadapi industri pariwisata.
“Luaran yang diharapkan meliputi peningkatan kapasitas masyarakat, terbentuknya produk kreatif berbasis budaya lokal, publikasi ilmiah, serta model Desa Binaan berbasis SDGs yang berkelanjutan dan dapat direplikasi. Dengan demikian, program ini diharapkan memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Minahasa Utara,” kata Prof Sherly Lensun.
Lebih lanjut Ketua Panitia menjelaskan hasil penelitian beberapa permasalahan utama yang menjadi fokus dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini:
Pertama, masih terbatasnya kualitas pendidikan dan literasi masyarakat desa, khususnya dalam penguasaan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan industri pariwisata, seperti kemampuan komunikasi, literasi digital, dan pemahaman layanan wisata.
Kedua, belum optimalnya pengembangan ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya
lokal, padahal kedua desa memiliki potensi besar dalam kerajinan, seni pertunjukan, dan produk budaya yang dapat dikembangkan menjadi komoditas ekonomi dalam mendukung kawasan wisata, khususnya yang terintegrasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus Likupang.
Ketiga, masih terbatasnya peran dan partisipasi perempuan dalam pembangunan ekonomi dan sosial desa, meskipun perempuan memiliki potensi besar sebagai penggerak utama dalam sektor UMKM dan ekonomi kreatif. Hal ini menunjukkan pentingnya penguatan aspek kesetaraan gender sebagaimana ditekankan dalam agenda SDGs, khususnya SDG 5.
Keempat, belum terbangunnya kemitraan yang kuat dan berkelanjutan antara perguruan tinggi dan masyarakat desa dalam bentuk program pendampingan yang sistematis dan berkelanjutan, sehingga intervensi yang dilakukan selama ini cenderung bersifat sporadis dan belum berdampak jangka panjang.
Kelima, masih rendahnya tingkat inovasi berbasis potensi lokal, baik dalam pengolahan produk, pengemasan, maupun pemasaran, yang menyebabkan potensi desa belum mampu bersaing dalam ekosistem pariwisata yang semakin kompetitif, terutama dengan adanya
pembangunan hotel berbintang lima dan meningkatnya arus wisatawa rumusan masalah yang telah diuraikan, maka tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang secara komprehensif untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung arah pembangunan daerah dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
“Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu pilar utama dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan pembangunan nasional. Dalam konteks global, pengabdian masyarakat saat ini diarahkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yang menekankan pembangunan berkelanjutan berbasis inklusivitas, keadilan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Program Desa Binaan di Desa Paputungan dan Desa Tanah Putih merupakan langkah strategis yang tidak hanya memenuhi mandat Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi juga menjawab kebutuhan nyata masyarakat dalam menghadapi transformasi kawasan pariwisata di Kabupaten Minahasa Utara,” kata Prof Sherly Lensun.
Dekan FBS Unima Dr. Grace Shirley Luntungan, yang mewakili Rektor UNIMA mencanangkan Desa Paputungan dan Tanah Putih sebagai Desa Binaan Tahun 2026, menyampaikan bahwa Pencanangan desa binaan Ini adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat dari Fakultas Bahasa dan Seni UNIMA.
“Terima kasih kepada hukum tua Desa Paputungan atas penerimaan dan pelayanannya,” ujar Grace Luntungan.
Sementara itu, Hukum Tua Desa Paputungan Rustan Devi Tatumang, SST., memberikan apresiasi yang tinggi kepada pimpinan FBS Unima khususnya Dekan dan ketua panita yg memilih desa Paputungan dan tanah putih menjadi desa binaan selama 1 tahun.
“Program pengabdian kepada mesayarakat dari UNIMA adalah jalan yang membantu sumber daya manusia desa paputungan untuk bisa menguasai Bahasa Asing. Ini menjawab tantangan masyarakat berkaitan dengan pengembangan pariwisata. Terima kasih atas kesempatan ini. Jao-jao datang demi untuk masyarakat Desa Paputungan,” ungkap Rustam Tatumang.
Dari pihak UNIMA yang hadir dalam kegiatan tersebut, antara alain: Ketua Senat FBS Unima: Prof. Dr. Kamajaya Alkatuuk, Sekretaris Senat Prof. Dr. Sherly Lensun, Wakil Dekan 1 Dr. Gleni Latuni, Wakil Dekan 2 Amelia Gledys Sompotan,Wakil Dekan Fivy Andries, Kepala Bagian Valentino Tangkau, Prof. Dr. Olga Rotinsulu, para pimpinan jurusan, pimpinan program studi, para dosen, dan mahasiswa FBS Unima. Dari Desa Paputungan: Sekretaris Desa Paputungan, perangkat Desa, dan masyarakat desa paputungan.

