Guru Besar FMIPAK UNIMA Prof. Dr. Orbanus Naharia bersama Kepala LPPM UNIMA Dr. Armstrong Sompotan, M.Si berfoto bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D usai peluncuran Program BESTARI SAINTEK 2026 di Auditorium Graha Diktisaintek, Senayan, Jakarta, Rabu (29/4/2026). (Dok. Dr. Armstrong Sompotan).
MINAHASA – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., resmi meluncurkan Program Bestari Saintek (Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi) 2026 dalam agenda kick-off yang digelar di Auditorium Graha Diktisaintek, Senayan, Jakarta, Rabu (29/4/2026). Peluncuran program tersebut menandai dimulainya komitmen baru pemerintah dalam memperkuat pendanaan riset nasional yang berorientasi pada hilirisasi hasil penelitian di perguruan tinggi.
Program Bestari Saintek hadir sebagai salah satu langkah strategis pemerintah untuk memperkuat ekosistem riset nasional melalui kolaborasi lintas sektor. Melalui program ini, penelitian yang dilakukan di perguruan tinggi diharapkan tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi mampu menjawab persoalan konkret di tengah masyarakat dan dunia industri.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan bahwa riset harus terus memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan secara langsung.
“Riset yang kita lakukan harus terus berkontribusi pada pengembangan keilmuan. Salah satu caranya memang melalui jurnal ilmiah, tetapi lebih dari itu, harus kita lanjutkan menjadi karya nyata yang benar-benar bisa digunakan dan memudahkan kehidupan masyarakat di sekitar kita,” ujar Brian dalam siaran pers, Rabu (29/4/2026).
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek), Ahmad Najib Burhani, menjelaskan bahwa antusiasme peserta dalam program ini sangat tinggi. Sebanyak 8.951 pendaftar mengikuti tahap penyampaian Expression of Interest (EoI), kemudian 2.499 pengusul melanjutkan ke tahap dokumen EoI, dan 545 proposal berhasil masuk ke tahap pengajuan proposal teknis.
Dari keseluruhan proses seleksi tersebut, hanya 122 tim riset yang dinyatakan lolos dan mendapatkan pendanaan. Dengan demikian, hanya sekitar 4,9 persen dari total pendaftar yang berhasil terpilih.
Proposal yang lolos pendanaan terbagi dalam delapan sektor strategis, yakni pangan dan pertanian, kemaritiman, sosial humaniora, seni budaya dan pendidikan, teknologi komunikasi dan informasi, kebencanaan, kesehatan dan obat, energi baru dan terbarukan, serta material maju.
Program Bestari Saintek juga mendorong lahirnya Non-Traditional Research Output (NTRO), yakni luaran riset yang tidak hanya berbentuk jurnal ilmiah, tetapi juga berupa prototipe, model bisnis, kebijakan, hingga inovasi yang siap diimplementasikan di masyarakat dan industri.
Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan 56 mitra industri, 64 perguruan tinggi, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya, termasuk mitra internasional dan media massa. Sebanyak 122 tim riset terpilih didukung oleh 341 mitra dan melibatkan 854 dosen serta tenaga kependidikan.
Dari sisi pendanaan, Program Bestari Saintek didukung oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dengan total alokasi anggaran sebesar Rp57,5 miliar, dengan tingkat penyerapan anggaran mencapai hampir 100 persen.
Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Ayom Widipaminto, menyampaikan bahwa pendanaan riset harus dipandang sebagai investasi jangka panjang yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“LPDP menaruh harapan besar pada Program Bestari Saintek. Harapannya, peluncuran ini benar-benar dapat memberi dampak dan hasil di sekitar kita, mendorong kolaborasi partisipatif, dan memanfaatkan hasil riset untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia,” kata Ayom.
Di tengah persaingan nasional yang ketat, Provinsi Sulawesi Utara mencatatkan satu capaian penting. Satu-satunya perwakilan dari tanah kelahiran Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang berhasil lolos dalam pendanaan Program Bestari Saintek LPDP Tahun 2026 adalah Guru Besar Fakultas Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Kebumian (FMIPAK) Universitas Negeri Manado (UNIMA), Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si.
Prof. Orbanus lolos dengan penelitian berjudul “Aplikasi Teknologi Intermittent Irrigation untuk Mitigasi Gas Metana (CH4) pada Budidaya Padi Sawah.”
Dalam penelitian tersebut, Prof. Orbanus bertindak sebagai ketua tim peneliti bersama sejumlah anggota, yakni Dr. Joan Helen Lawalata, M.Si., Dr. Utari Satiman, M.Si., Dr. Stella M. Taulu, M.Si., Dr. Hendro Maxwel Sumual, M.Si., Herman Dolongseda, S.Pd., M.Pd., dan Vivi Winny Saroinsong, S.Pi., M.AP.
Adapun mitra utama penelitian ini adalah Pemerintah Kabupaten Minahasa, yang dipimpin Bupati Minahasa Dr. Robby Dondokambey, S.Si., M.AP. dan Wakil Bupati Vanda Sarundajang, S.S., melalui dukungan teknis Dinas Pertanian Kabupaten Minahasa yang dipimpin Dr. Ir. Margaretha Ratulangi.
Sementara itu, mitra pendukung penelitian meliputi Kelompok Tani Tumaar Neh Pemuda di Kelurahan Tataaran II, Kecamatan Tondano Selatan, Kabupaten Minahasa, yang dipimpin Verra Panungkelan, S.Sos., serta dukungan dari media massa.
Saat diwawancarai pada Jumat (1/5/2026), Prof. Orbanus Naharia mengungkapkan bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan penuh pimpinan Universitas Negeri Manado.
“Keberhasilan lolosnya penelitian ini atas dukungan penuh Rektor UNIMA Dr. Joseph Philip Kambey, S.E., Ak., M.B.A., Dekan FMIPAK UNIMA Prof. Dr. Mokosuli Yermia Semuel, S.Si., M.Si., hingga Kepala LPPM UNIMA Dr. Armstrong F. Sompotan, M.Si.,” ujarnya.
Ia berharap hasil penelitian tersebut dapat memberikan kontribusi besar terhadap upaya penanganan perubahan iklim global.
“Diharapkan hasil penelitian ini membantu memberikan solusi dalam upaya mengurangi terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim global yang sangat memengaruhi keberlanjutan kehidupan di planet bumi,” katanya.
Prof. Orbanus menjelaskan bahwa gas metana (CH4) merupakan salah satu gas rumah kaca yang memiliki kontribusi besar terhadap pemanasan global, terutama berasal dari wilayah tergenang seperti danau dan lahan sawah.
Menurutnya, teknologi intermittent irrigation menjadi solusi adaptif dalam mengurangi emisi gas metana di lahan pertanian.
“Gas metana (CH4) merupakan salah satu gas rumah kaca penyebab pemanasan global dengan emisi besar yang berasal dari daerah tergenang seperti danau dan lahan padi sawah. Teknologi intermittent irrigation merupakan teknologi adaptif yang mampu memitigasi emisi gas metana dari lahan sawah karena menyebabkan penguraian bahan organik berlangsung secara aerob, sehingga emisi gas metana dapat ditekan,” jelasnya.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sejak tahun 2000 hingga saat ini, sistem pengairan konvensional pada lahan sawah menghasilkan sekitar 300 kilogram CH4 per hektare per musim tanam.
“Untuk menekan tingginya emisi gas metana dari lahan padi sawah, perlu dilakukan rekayasa penguraian bahan organik dari suasana anaerob menjadi suasana aerob. Dengan demikian, emisi gas metana dapat ditekan serendah mungkin,” katanya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa penerapan teknologi ini oleh petani dapat memberikan kontribusi besar dalam menekan dampak lingkungan global.
“Apabila rekayasa teknologi ini diterapkan oleh petani padi sawah, maka sektor pertanian tanaman pangan memiliki peran penting dalam mengatasi masalah lingkungan global, yakni pemanasan global dan perubahan iklim yang saat ini telah menjadi salah satu bencana ekologis terbesar di dunia,” tutup Prof. Orbanus.
(Abner)

