21 April 2026 | SPESIAL HARI KARTINI | Bawaslu minsel

SEBUAH TULISAN REFLEKSI SINGKAT DALAM MEMPERINGATI HARI KARTINI.

Keperempuanan dalam demokrasi adalah tentang mendobrak tradisi “politik maskulin” yang cenderung transaksional, lalu menggantinya dengan kepemimpinan yang empatik, berintegritas, dan transformatif. Sudah saatnya kita berhenti menjadi objek dalam narasi demokrasi dan mulai menjadi subjek yang menentukan arah bangsa.

Demokrasi kita bukan sekedar angka di kotak suara, melainkan tentang keberanian meruntuhkan tembok patriarki yang selama ini membatasi gerak perempuan. Bagi saya kehadiran kita bukan sekedar pemanis kursi jabatan atau pemenuh kuota formalitas. Kita adalah garda terdepan yang membawa perspektif keadilan substantif. Kita hadir untuk memastikan bahwa pengawasan pemilu tidak hanya tajam secara hukum, tetapi juga peka terhadap ketimpangan gender dan marginalisasi.

Transformasi ini menuntut kita untuk tidak hanya mengawasi prosedur, tetapi juga mengawal kedaulatan nurani agar ruang politik menjadi aman dan setara bagi semua. Kepemimpinan perempuan di Bawaslu adalah pesan nyata bahwa integritas tidak mengenal gender, dan ketegasan bisa lahir dari tangan yang penuh kasih namun tak kompromi terhadap kecurangan. Mari kita ubah wajah demokrasi kita: dari yang sekadar kompetisi kekuasaan, menjadi ruang kolaborasi yang memanusiakan dan inklusif bagi setiap warga negara.