Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Prof. Dr. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., bersama Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling (YSK) dan Rektor UNIMA Dr. Joseph Philip Kambey, S.E., M.B.A., Ak., meresmikan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Manado (Foto: Ist)
MINAHASA – Universitas Negeri Manado (UNIMA) resmi meluncurkan Fakultas Kedokteran dan Program Profesi Dokter dalam sebuah seremoni yang berlangsung di kampus Fakultas Kedokteran UNIMA, Kamis (11/6/2026).
Peresmian ini menjadi momentum bersejarah bagi dunia pendidikan tinggi di Sulawesi Utara sekaligus menandai langkah strategis UNIMA dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia di bidang kesehatan.
Acara peresmian dihadiri oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Republik Indonesia Prof. Dr. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, jajaran pimpinan kementerian, kepala daerah se-Sulawesi Utara, pimpinan perguruan tinggi, rumah sakit mitra, serta civitas akademika UNIMA.
Dalam laporannya, Rektor UNIMA Dr. Joseph Philip Kambey, S.E., M.B.A., Ak., menyebut peresmian Fakultas Kedokteran UNIMA sebagai tonggak sejarah baru bagi Minahasa dan kawasan Indonesia Timur.
“Hari ini adalah tonggak sejarah baru bagi tanah Minahasa dan kawasan Indonesia Timur. Berdiri di sini, kita tidak hanya merayakan lahirnya sebuah fakultas baru, melainkan sedang menyaksikan manifesto dari sebuah komitmen panjang untuk menjawab panggilan kemanusiaan, pemenuhan keadilan akses kesehatan, dan pembangunan sumber daya manusia yang unggul,” ujar Kambey.
Menurutnya, lahirnya Fakultas Kedokteran UNIMA tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang institusi yang berakar dari Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Tondano yang berdiri pada tahun 1955.
“Sebagai salah satu lembaga pendidikan guru tertua di Indonesia, institusi ini memikul mandat mulia untuk mencetak kader-kader pendidik bangsa,” katanya.
Perjalanan sejarah tersebut kemudian berlanjut ketika PTPG Tondano bertransformasi menjadi IKIP Manado dan pada tahun 2000 resmi berubah menjadi Universitas Negeri Manado berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 127 Tahun 2000.
“Sejak momentum tersebut, UNIMA tidak lagi hanya berfokus pada bidang kependidikan, tetapi berkembang menjadi universitas komprehensif yang menyelenggarakan berbagai disiplin ilmu guna menjawab tantangan pembangunan nasional,” jelasnya.
Kambey menambahkan, pencapaian Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) dengan predikat Unggul yang diraih UNIMA pada tahun 2025 menjadi fondasi akademik dan moral yang kuat dalam mewujudkan Fakultas Kedokteran.
“Pencapaian ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan pijakan yang semakin menguatkan komitmen kami untuk berkontribusi dalam memperkuat ketahanan kesehatan bangsa melalui pendidikan kedokteran,” ujarnya.
Rektor UNIMA menyoroti masih terjadinya ketimpangan distribusi tenaga dokter di Indonesia, terutama di wilayah kepulauan dan daerah perbatasan.
“Hingga saat ini, sebaran tenaga dokter masih terkonsentrasi di pusat-pusat perkotaan. Sementara masyarakat di wilayah kepulauan seperti Sangihe, Talaud, Sitaro, dan daerah terpencil lainnya masih menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan,” kata Kambey.
Menurutnya, kondisi geografis Sulawesi Utara yang terdiri atas wilayah kepulauan menimbulkan tantangan tersendiri dalam pelayanan kesehatan.
“Mobilitas pasien maupun tenaga medis sangat bergantung pada kondisi cuaca, jarak tempuh, serta ketersediaan sarana transportasi. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pelayanan kesehatan primer maupun sistem rujukan darurat,” ujarnya.
Karena itu, Fakultas Kedokteran UNIMA hadir sebagai bagian dari solusi nasional dalam memperkuat pemerataan tenaga kesehatan.
“Kami tidak hanya ingin menambah jumlah dokter, tetapi melahirkan dokter yang memahami realitas kesehatan masyarakat kepulauan, memiliki daya adaptasi tinggi, dan berkomitmen mengabdi di daerah-daerah terluar,” tegasnya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, kurikulum pendidikan kedokteran UNIMA dirancang secara transformasional melalui kerangka strategis yang diberi nama MAPALUS GENIC, sebuah pendekatan yang mengintegrasikan nilai lokal, inovasi, serta kebutuhan kesehatan masa depan.
Kambey menjelaskan bahwa pengembangan Fakultas Kedokteran UNIMA dilakukan secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan.
Keberadaan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Masyarakat (FIKKM) serta Klinik UNIMA menjadi fondasi awal pengembangan ekosistem pendidikan kesehatan yang lebih komprehensif.
“Ke depan, kami akan membangun Academic Health System yang mengintegrasikan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan riset secara terpadu,” katanya.
Dalam rencana jangka panjang, UNIMA juga telah menyiapkan pembangunan Rumah Sakit Pendidikan yang akan menjadi pusat pembelajaran klinik sekaligus sarana pelayanan kesehatan masyarakat.
Selain itu, akan dibangun laboratorium klinis modern dan pusat riset kesehatan yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk eksplorasi potensi biomedis lokal.
Menurut Kambey, seluruh proses pendirian Fakultas Kedokteran UNIMA ditopang oleh empat pilar utama, yakni pilar kebijakan, pilar akademik, pilar sumber daya dan infrastruktur, serta pilar jejaring kemitraan.
Dalam sambutannya, Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus menegaskan bahwa pemerataan pendidikan tinggi berkualitas merupakan kunci dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
“Mutu pendidikan tinggi harus merata dan mudah diakses oleh putra-putri daerah. Kehadiran Fakultas Kedokteran UNIMA memperluas kesempatan bagi talenta-talenta muda terbaik Sulawesi Utara untuk menempuh pendidikan kedokteran yang bermutu tanpa harus keluar daerah,” ujar Yulius.
Ia menjelaskan, kehadiran Fakultas Kedokteran UNIMA memiliki tiga urgensi strategis bagi pembangunan daerah.
Pertama, mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di era global. Kedua, mendukung pemerataan layanan kesehatan terutama di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), termasuk kawasan Nusa Utara. Ketiga, memperkuat pengembangan sektor medical tourism yang mengintegrasikan layanan kesehatan dan sektor pariwisata.
Menurut Yulius, dokter-dokter yang berasal dari daerah memiliki peluang lebih besar untuk kembali mengabdi dan memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah asal mereka.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara berkomitmen menyediakan rumah sakit jejaring dan puskesmas yang akan menjadi wahana pendidikan dan praktik mahasiswa Fakultas Kedokteran UNIMA.
“Kita membutuhkan dokter yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki empati, integritas, serta semangat pengabdian yang tinggi kepada masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Mendiktisaintek Prof Brian Yuliarto memberikan apresiasi terhadap model penerimaan mahasiswa angkatan pertama Fakultas Kedokteran UNIMA yang menyediakan kuota 50 mahasiswa putra-putri daerah dengan pembiayaan penuh dari pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten dan kota di Sulawesi Utara.
“Kita memahami bahwa tantangan kesehatan Indonesia saat ini bukan hanya soal jumlah dokter, tetapi juga distribusi dokter ke daerah-daerah yang membutuhkan. Saya sangat bahagia karena selain membuka Fakultas Kedokteran, UNIMA juga memperluas akses pendidikan kedokteran bagi putra-putri terbaik dari seluruh daerah di Sulawesi Utara,” ujar Brian.
Ia mengungkapkan bahwa model seleksi yang diterapkan Fakultas Kedokteran UNIMA telah dipelajari dan disosialisasikan kepada sejumlah fakultas kedokteran lain di Indonesia karena dinilai mampu menjadi solusi pemerataan tenaga kesehatan.
Menurut Brian, investasi pada sumber daya manusia bidang kesehatan tidak dapat dihitung semata-mata dari aspek biaya.
“Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah seperti yang dilakukan UNIMA merupakan contoh nyata bagaimana pendidikan dapat menjawab kebutuhan masyarakat,” katanya.
Sebelumnya, Rektor UNIMA menjelaskan bahwa penerimaan mahasiswa angkatan pertama dilakukan melalui jalur rekomendasi pemerintah kabupaten dan kota se-Sulawesi Utara yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Seleksi akademik dan psikotes dilaksanakan dengan standar nasional di bawah pendampingan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya sebagai institusi pembina.
“Dari total 50 kursi yang tersedia dan dibiayai penuh oleh pemerintah daerah, pada tahap pertama hanya 37 peserta yang dinyatakan memenuhi standar kelulusan nasional. Sebanyak 13 kursi yang tersisa akan diperebutkan kembali melalui seleksi tahap berikutnya,” sebutnya.
Pada kesempatan tersebut, Mendiktisaintek juga berpesan kepada mahasiswa angkatan pertama Fakultas Kedokteran UNIMA agar memanfaatkan beasiswa yang diterima dengan penuh tanggung jawab.
“Beasiswa ini bukan sekadar bantuan biaya pendidikan, tetapi merupakan amanah masyarakat dan negara yang harus diwujudkan melalui pengabdian nyata dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan di daerah masing-masing,” pesannya.
Melalui peresmian Fakultas Kedokteran UNIMA, pemerintah berharap hadir model pendidikan kedokteran yang mampu memperkuat pemerataan tenaga kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan nasional melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, rumah sakit mitra, dan masyarakat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi beserta jajaran Kemdiktisaintek, Rektor Universitas Brawijaya dan tim pendamping Fakultas Kedokteran UNIMA, tenaga ahli dan staf khusus Mendiktisaintek, Forkopimda Sulawesi Utara, bupati dan wali kota se-Sulawesi Utara, Kepala LLDIKTI Wilayah XVI, pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta, direktur rumah sakit dan kepala puskesmas se-Sulawesi Utara, jajaran pimpinan UNIMA, anggota Senat UNIMA, tokoh agama, mahasiswa, serta orang tua mahasiswa baru Fakultas Kedokteran UNIMA.
(Abner Bawinto)

