Minahasa: Sementara itu, **Lady Giroth**, selaku Ketua Creative Economy Accelerator (CREATOR) sekaligus penginisiasi kegiatan, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat menjadi titik awal perubahan bagi pelaku UMKM dan petani di daerah.
“Kami ingin UMKM dan petani tidak hanya bertahan, tetapi juga maju dan berkembang dengan memanfaatkan teknologi, termasuk AI. Harapannya, mereka bisa lebih mandiri, inovatif, dan mampu bersaing di era digital,” ungkapnya.
Dari sisi komunitas petani, **Bendeker Manase Malonda** menyoroti tantangan yang masih dihadapi di tingkat lapangan, khususnya dalam pengelolaan keuangan. Ia menjelaskan bahwa secara teknis, kelompok tani sudah cukup kompeten dalam proses budidaya dan produksi, namun belum diimbangi dengan kemampuan manajemen keuangan yang baik.
“Banyak petani sudah mampu menghasilkan panen yang baik, tetapi ketika hasil tersebut dijual, pengelolaan keuangannya belum optimal. Dana yang seharusnya disisihkan untuk siklus tanam berikutnya seringkali sudah terpakai untuk kebutuhan lain, sehingga menjadi hambatan dalam keberlanjutan usaha,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan literasi keuangan menjadi hal penting yang perlu berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas produksi.
Sementara itu, **Lady Ante** dari Perhumas Manado menekankan pentingnya peran komunikasi strategis dalam memperkuat daya saing UMKM. Ia menyampaikan bahwa di era digital saat ini, keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga bagaimana produk tersebut dikomunikasikan kepada pasar.
“Pelaku UMKM perlu memahami bagaimana membangun citra, menyampaikan nilai produk, dan menjangkau audiens yang lebih luas melalui strategi komunikasi yang tepat. Pemanfaatan media digital, AI, hingga branding menjadi kunci agar produk lokal dapat bersaing, tidak hanya di tingkat daerah tetapi juga nasional,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa komunikasi yang efektif dapat membantu UMKM membangun kepercayaan konsumen serta memperluas peluang pasar secara berkelanjutan.
Bertempat di Sekretariat Kelompok Tani Wori–Kakas, kegiatan ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga ruang untuk membangun jejaring dan kolaborasi nyata. Interaksi yang terjalin diharapkan mampu menghasilkan langkah konkret yang dapat langsung diterapkan oleh pelaku UMKM dan petani.
Dengan semangat “mapalus” sebagai nilai gotong royong masyarakat Minahasa, kegiatan ini diharapkan menjadi katalis dalam mendorong transformasi ekonomi lokal yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.


