MINAHASA – Tim Penelitian penerima Pendanaan Bestari Saintek 2026 Universitas Negeri Manado (UNIMA) resmi memulai pelaksanaan riset melalui kegiatan Kick Off Penelitian bertajuk “Aplikasi Teknologi Intermittent Irrigation untuk Mitigasi Gas Metana (CH4) pada Budidaya Padi Sawah”. Kegiatan tersebut dilaksanakan di area persawahan Desa Koya, Kecamatan Tondano Selatan, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, Jumat (10/7/2026).
Penelitian ini dipimpin oleh Guru Besar Fakultas Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Kebumian (FMIPAK) UNIMA, Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si., bersama tim peneliti lintas disiplin. Riset tersebut memperoleh pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program Pendanaan Bestari Saintek Tahun 2026.
Kegiatan kick off menjadi penanda dimulainya tahapan penelitian lapangan yang akan difokuskan pada penerapan teknologi intermittent irrigation atau irigasi berselang sebagai salah satu inovasi dalam sistem budidaya padi sawah yang tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan air, tetapi juga berkontribusi dalam menekan emisi gas metana (CH4), salah satu gas rumah kaca yang dihasilkan dari lahan sawah tergenang.
Ketua Tim Peneliti, Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si., menjelaskan bahwa penelitian ini merupakan bentuk kontribusi nyata UNIMA dalam mendukung pengembangan pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan sekaligus menjawab tantangan perubahan iklim.
“Melalui penelitian ini kami ingin mengkaji efektivitas penerapan teknologi intermittent irrigation dalam menurunkan emisi gas metana pada budidaya padi sawah tanpa mengurangi produktivitas tanaman. Harapannya, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar ilmiah bagi pengembangan sistem pertanian yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan,” ujar Naharia.
Guru Besar FMIPAK UNIMA tersebut menjelaskan bahwa sektor pertanian, khususnya budidaya padi sawah, menjadi salah satu penyumbang emisi gas metana akibat sistem penggenangan lahan secara terus-menerus. Oleh karena itu, diperlukan inovasi teknologi yang mampu mengurangi dampak lingkungan tanpa mengorbankan hasil produksi petani.
Menurutnya, teknologi irigasi berselang memberikan peluang untuk menghemat penggunaan air sekaligus menciptakan kondisi tanah yang dapat menekan proses pembentukan gas metana. Dengan demikian, teknologi tersebut diharapkan menjadi salah satu solusi dalam mendukung pembangunan pertanian rendah emisi.
Ia menambahkan, penelitian ini juga akan menghasilkan data ilmiah mengenai hubungan antara pola pengairan, kondisi lingkungan lahan sawah, serta produktivitas tanaman padi. Data tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam penyusunan rekomendasi teknologi yang dapat diterapkan secara luas oleh masyarakat maupun pemerintah.
Selain menghasilkan publikasi ilmiah, penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat langsung bagi petani melalui penerapan teknologi yang sederhana, mudah diadopsi, dan memiliki nilai ekonomi maupun ekologis.
Prof. Naharia berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dapat terus diperkuat sehingga hasil penelitian tidak berhenti pada aspek akademik semata, tetapi mampu diterapkan secara nyata dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan upaya mitigasi perubahan iklim.
“Melalui penelitian ini kami berharap dapat melahirkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya para petani. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pengelolaan budidaya padi yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung pencapaian target pengurangan emisi gas rumah kaca di Indonesia,” tutup Prof. Orbanus Naharia.
(Abner)



