Suasana rapat persiapan pelaksanaan Program Bestari Saintek 2026 yang membahas penyusunan Expression of Interest (EOI) riset “Aplikasi Teknologi Intermittent Irrigation untuk Mitigasi Gas Metana (CH4) pada Budidaya Padi Sawah” di Gedung Fakultas Teknik Universitas Negeri Manado, Selasa (19/5/2026). (Foto: Abner Bawainto)
MINAHASA – Tim Penelitian dari Pendanaan Bestari Saintek 2026 yang menjadi satu-satunya perwakilan dari Sulawesi Utara, kembali menggelar rapat persiapan pelaksanaan Program Bestari 2026 di Gedung Fakultas Teknik Universitas Negeri Manado, Selasa (19/5/2026).
Tim penelitian yang diketuai Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si tersebut membahas penyusunan Expression of Interest (EOI) untuk riset berjudul “Aplikasi Teknologi Intermittent Irrigation untuk Mitigasi Gas Metana (CH4) pada Budidaya Padi Sawah.”
Kegiatan ini dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Teknik UNIMA, Dr. Hendro Maxwel Sumual, ST, M.Eng., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi terhadap capaian tim peneliti yang berhasil membawa Sulawesi Utara masuk dalam pendanaan strategis nasional melalui Program Bestari Saintek 2026.
Menurutnya, penelitian tersebut memiliki nilai penting karena tidak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga menjawab tantangan global terkait isu lingkungan dan ketahanan pangan.
“Riset seperti ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi memiliki kontribusi nyata dalam menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya di sektor pertanian berkelanjutan,” ujar Sumual.
Sementara itu, Ketua Tim Penelitian, Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si, menjelaskan bahwa teknologi intermittent irrigation atau pengairan berselang menjadi salah satu pendekatan yang dinilai efektif dalam menekan emisi gas metana (CH4) pada lahan persawahan tanpa mengurangi produktivitas tanaman padi.
Ia mengatakan, penyusunan EOI menjadi tahapan penting dalam memperkuat arah riset, kolaborasi tim, serta strategi implementasi penelitian ke depan.
“Melalui penelitian ini, kami berharap dapat menghasilkan model budidaya padi sawah yang lebih ramah lingkungan, efisien dalam penggunaan air, dan mendukung upaya mitigasi perubahan iklim,” kata Naharia.
Rapat tersebut turut dihadiri anggota tim peneliti serta sejumlah akademisi yang terlibat dalam penguatan konsep dan teknis pelaksanaan Program Bestari 2026.
(Abner)




