Tim Peneliti Bestari Saintek 2026 UNIMA bersama Kelompok Tani Tumaar Ne Pemuda saat pelaksanaan demoplot penelitian Aplikasi Teknologi Intermittent Irrigation untuk Mitigasi Gas Metana (CH₄) pada Budidaya Padi Sawah, Kamis (6/8/2026).
MINAHASA – Penelitian penerima Pendanaan Bestari Saintek 2026 Universitas Negeri Manado (UNIMA) yang dipimpin Guru Besar Fakultas Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Kebumian (FMIPAK) UNIMA, Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si., bersama Kelompok Tani (KT) Tumaar Ne Pemuda memasuki tahapan penerapan teknologi di lapangan.
Tim penelitian melakukan 18 demoplot sebagai bagian dari pelaksanaan riset di lahan persawahan, di JI. Raya Tondano, Kabupaten Minahasa, Kamis (6/8/2026).
Penelitian yang menjadi salah satu perwakilan Sulawesi Utara tersebut memperoleh pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program Pendanaan Bestari Saintek Tahun 2026.
Riset tersebut mengangkat judul “Aplikasi Teknologi Intermittent Irrigation untuk Mitigasi Gas Metana (CH₄) pada Budidaya Padi Sawah.”
Ketua Tim Peneliti, Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si., menjelaskan bahwa 18 demoplot tersebut disusun berdasarkan rancangan percobaan yang memungkinkan tim menguji kombinasi perlakuan irigasi dan pemupukan secara sistematis.
“Penelitian ini menggunakan Randomized Block Design (RBD) atau Rancangan Acak Kelompok (RAK) sebagai rancangan lingkungan, sedangkan rancangan perlakuannya menggunakan Split Plot Design atau Rancangan Petak Terbagi,” jelas Prof. Orbanus.
Menurut dia, dalam rancangan tersebut, irigasi ditempatkan sebagai perlakuan pada petak utama (main plot), sedangkan pemupukan ditempatkan pada anak petak (sub plot).
Terdapat dua perlakuan irigasi yang diuji, yakni A1 berupa flooded irrigation atau irigasi tergenang dan A2 berupa intermittent irrigation atau irigasi berselang.
“Pada penelitian ini kita membandingkan dua sistem irigasi, yaitu irigasi tergenang dan irigasi intermiten. Fokus pentingnya adalah melihat bagaimana pengelolaan air yang berselang dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi pertanaman sekaligus mendukung upaya mitigasi emisi gas metana dari lahan sawah,” ujarnya.
Selain perlakuan irigasi, penelitian juga menguji tiga tingkat pemupukan. Perlakuan P1 terdiri atas PONSKA 150 kilogram per hektare dan Urea 50 kilogram per hektare. Perlakuan P2 menggunakan PONSKA 200 kilogram per hektare dan Urea 75 kilogram per hektare, sedangkan P3 menggunakan PONSKA 300 kilogram per hektare dan Urea 100 kilogram per hektare.
Dengan demikian, terdapat enam kombinasi perlakuan dalam setiap kelompok, yang merupakan hasil kombinasi dua tingkat irigasi dan tiga tingkat pemupukan.
“Dua perlakuan irigasi dikombinasikan dengan tiga tingkat pemupukan, sehingga terdapat enam kombinasi perlakuan dalam setiap blok. Karena penelitian menggunakan tiga blok atau kelompok, total terdapat 18 unit demoplot yang digunakan dalam penelitian,” kata Prof. Orbanus.
Tiga Blok, 18 Kombinasi Perlakuan
Dalam rancangan penelitian tersebut, setiap blok berisi enam kombinasi perlakuan, yakni A1P1, A1P2, A1P3, A2P1, A2P2, dan A2P3.
Keenam kombinasi tersebut ditempatkan secara acak pada masing-masing blok. Penggunaan tiga blok dimaksudkan untuk mengakomodasi keragaman kondisi lingkungan lahan sehingga pengaruh perlakuan dapat dianalisis secara lebih objektif.
“Pengelompokan ini penting karena kondisi lahan sawah tidak selalu seragam. Dengan adanya tiga blok dan pengacakan kombinasi perlakuan, kita dapat memperoleh data yang lebih representatif untuk melihat pengaruh masing-masing perlakuan maupun interaksi antara sistem irigasi dan pemupukan,” jelasnya.
Prof. Orbanus mengatakan, penerapan teknologi intermittent irrigation menjadi salah satu aspek utama dalam penelitian tersebut. Sistem ini pada prinsipnya mengatur pemberian air secara berselang, tidak mempertahankan kondisi lahan terus-menerus tergenang seperti pada sistem irigasi konvensional.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan informasi mengenai hubungan antara pengelolaan air, pemupukan, pertumbuhan tanaman padi, produktivitas, serta potensi mitigasi emisi gas metana (CH₄) dari ekosistem persawahan.
“Yang ingin kita lihat bukan hanya produktivitas tanaman, tetapi juga bagaimana teknologi pengelolaan air dan pemupukan dapat diterapkan secara tepat sehingga budidaya padi menjadi lebih efisien dan memiliki kontribusi terhadap upaya pengurangan emisi gas rumah kaca, khususnya metana,” tutur Prof. Orbanus.
Pelaksanaan demoplot bersama KT Tumaar Ne Pemuda juga menjadi bagian penting dalam penelitian tersebut. Keterlibatan kelompok tani memungkinkan teknologi yang dikembangkan tidak berhenti pada tataran eksperimen, tetapi dapat diperkenalkan dan diuji dalam kondisi pertanian yang nyata.
Prof. Orbanus menambahkan, demoplot juga diharapkan menjadi media pembelajaran bagi petani dalam memahami penerapan sistem irigasi intermiten serta kombinasi pemupukan yang diuji dalam penelitian.
“Kolaborasi dengan kelompok tani menjadi penting karena keberhasilan teknologi pertanian pada akhirnya sangat bergantung pada penerimaan dan kemampuan petani dalam menerapkannya di lapangan,” katanya.
Melalui pelaksanaan 18 demoplot tersebut, tim peneliti UNIMA selanjutnya akan melakukan pengamatan dan pengumpulan data terhadap berbagai parameter penelitian untuk mengetahui respons tanaman dan dampak dari masing-masing kombinasi perlakuan.
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan budidaya padi yang lebih efisien, produktif, dan berorientasi pada mitigasi perubahan iklim, sekaligus menghasilkan model teknologi yang dapat diterapkan secara lebih luas oleh petani.
(Abner)





