MINAHASA – Tim penelitian Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) Universitas Negeri Manado (UNIMA) menjalani monitoring dan evaluasi (Monev) secara daring melalui Zoom Meeting, Selasa (3/11/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung di Kelurahan Tataaran Patar, Kecamatan Tondano Selatan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Monev ini melibatkan Anggota Tim Fasilitator dan Pendukung Direktorat Minat Saintek Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Dela Fahriana Havityaningtyas, yang juga bertugas sebagai Project Management Office (PMO).
Selain itu, hadir sebagai reviewer, Dosen Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB University, Dr. Ir. Suharno, K.Adev.
Dari pihak UNIMA, kegiatan tersebut diikuti Ketua Tim Peneliti, Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si., bersama anggota tim, yakni Dekan Fakultas Teknik (FT) UNIMA, Dr. Hendro Maxwell Sumual, S.T., M.Pd., M.Eng.; Kepala Biro Akademik UNIMA, Vivi Winy Saroinsong, S.Pi., M.AP.; Herman Philips Dolonseda, S.Pd., M.Pd.; Dr. Helen J. Lawalata, M.Si.; Dr. Ir. Marthy L.S. Taulu, M.Si.; Dr. Utari Satiman, S.P., M.Si.; Ever Kamito Kajo, S.Pd.; dan Tirza Selfin Korneles, S.Pd., M.Si.
Monev juga melibatkan anggota Kelompok Tani (KT), yakni ketua KT, Natan Sumolang, bersama anggota, Anugerah Wuysang, Nelsen Moningka, dan Andy Moningka.
Penelitian yang di monitoring dan evaluasi berjudul “Aplikasi Teknologi Intermittent Irrigation untuk Mitigasi Gas Metana (CH4) pada Budidaya Padi Sawah”.
Program Bestari Saintek 2026 diinisiasi Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Dit. Minat Saintek), Kemdiktisaintek, dengan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Ketua Tim Peneliti, Prof. Orbanus Naharia, mengatakan pelaksanaan Monev berjalan dengan baik. Menurut dia, evaluasi tersebut menjadi kesempatan bagi tim untuk memperoleh masukan sekaligus memperbaiki sejumlah aspek dalam pelaksanaan penelitian.
”Puji Tuhan, riset Bestari Saintek UNIMA 2026 hari ini telah menjalani Monev oleh tim fasilitator dan pendukung Direktorat Minat Saintek Kemdiktisaintek. Kegiatan berlangsung dengan baik,” ujar Naharia.
Guru Besar Fakultas Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Kebumian (FMIPAK) UNIMA yang akrab disapa Prof Orba itu mengungkapkan, salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam evaluasi adalah administrasi pendanaan dan realisasi anggaran.
Menurut dia, terdapat sejumlah komponen realisasi anggaran yang perlu disesuaikan dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Namun, tim masih menghadapi kendala terkait pengunduhan dokumen RAB.
”Beberapa realisasi anggaran sebenarnya perlu dimasukkan dalam RAB. Namun, tim kami belum mengunduh dokumen RAB. Sementara itu, PMO mengingatkan agar kami tidak menggunakan dana pribadi,” jelasnya.
Meski demikian, Prof Orba mengatakan PMO langsung memberikan solusi atas kendala administrasi tersebut sehingga tim memperoleh arahan untuk melakukan pembenahan.
Di sisi lain, substansi penelitian mendapat apresiasi dari reviewer karena pelaksanaannya dinilai berjalan sesuai dengan target yang telah ditetapkan dalam proposal.
”Untuk substansi riset, kami mendapat apresiasi karena pelaksanaannya berjalan sesuai target yang tercantum dalam proposal. Apresiasi tersebut menjadi motivasi bagi tim untuk terus melanjutkan penelitian,” katanya.
Prof Orba menambahkan, reviewer juga memberikan perhatian terhadap aspek adopsi teknologi dan manfaat penelitian bagi masyarakat.
Menurut Prof Orba, pertanyaan mengenai penerapan teknologi dan dampaknya bagi masyarakat menjadi bagian penting dalam evaluasi, mengingat penelitian tersebut tidak hanya berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga pada pemanfaatannya di lapangan.
”Reviewer juga menanyakan adopsi teknologi dan manfaat riset ini bagi masyarakat. Puji Tuhan, semuanya sudah berjalan dengan baik,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prof Orba menyebutkan bahwa adopsi teknologi oleh mitra utama, yakni Pemerintah Kabupaten Minahasa, juga telah berjalan dengan baik.
Prof Orba berharap hasil penelitian tersebut dapat direplikasi dan didiseminasikan dalam cakupan yang lebih luas sehingga manfaat teknologi intermittent irrigation dapat dirasakan oleh lebih banyak kelompok petani.
”Harapan kami, hasil riset ini dapat direplikasi dan didiseminasikan pada skala yang lebih besar dan wilayah yang lebih luas. Semoga seluruh tahapan penelitian berjalan lancar hingga akhir pelaksanaan pada awal Desember 2026,” tutup Naharia.
(Abner)






