MINAHASA – Tim penelitian Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) Universitas Negeri Manado (UNIMA) melaksanakan pengambilan sampel gas metana di lokasi penelitian, Kompleks Persawahan Jalan Boulevard, Kelurahan Koya, Kecamatan Tondano Selatan, Kabupaten Minahasa, Sabtu (17/10/2026).
Penelitian ini dipimpin Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si., bersama Sekretaris Tim Tirza Selfin Korneles, S.Pd., M.Si., dan Bendahara Ever Kamito Kajo, S.Pd.
Pengambilan sampel dilakukan pada tanaman padi berusia 55 hari setelah tanam (HST) di lahan yang dikelola Kelompok Tani Tumaar Ne Pemuda Tataaran. Anggota kelompok tani yang terlibat dalam kegiatan tersebut yakni Natan Sumolang, Anugerah Wuysang, Nelsen Moningka, Andy Moningka, dan Vilio Rampengan.
Saat diwawancarai ketua Tim Penelitian, Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si., mengatakan pengambilan sampel gas metana dilakukan bersamaan dengan pengamatan pertumbuhan vegetatif tanaman padi dan kegiatan pengairan di lahan penelitian.
“Saat ini dilaksanakan pengambilan sampel gas metana pada tanaman padi berusia 55 hari setelah tanam. Pada saat yang sama, dilakukan pengairan menggunakan pompa Alkon berbahan bakar Pertalite,” kata Naharia.
Prof Orba menjelaskan, kondisi lahan persawahan saat ini masih mengalami kekeringan akibat kemarau yang dikaitkan dengan fenomena El Niño. Karena itu, pengairan dilakukan setiap dua hari sekali untuk memenuhi kebutuhan air tanaman padi.
Selain pengambilan sampel gas metana, tim juga melakukan pengukuran pertumbuhan vegetatif dan menghitung jumlah tanaman padi.
“Melalui kegiatan ini, ada tiga variabel yang diamati, yakni gas metana, pertumbuhan vegetatif tanaman padi, dan jumlah tanaman padi,” ujarnya.
Prof Orba mengatakan, sampel gas metana yang diambil dari lokasi penelitian selanjutnya akan dianalisis di Laboratorium Teknik Kimia Lingkungan Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat.
Menurut dia, hasil analisis tersebut akan menjadi bagian penting dalam mengevaluasi penerapan teknologi pengairan berselang atau intermittent irrigation pada lahan persawahan.
Pengamatan terhadap tanaman diperkirakan berlanjut hingga hari ke-78 atau ke-80 setelah tanam. Setelah itu, lahan akan dikeringkan dan tim menunggu proses panen untuk menghitung hasil produksi padi.
“Setelah pengamatan, sekitar hari ke-78 atau ke-80 setelah tanam, lahan akan dikeringkan. Selanjutnya, setelah panen, kami akan menghitung produksi untuk melihat bagaimana pengaruh perlakuan teknologi intermittent irrigation terhadap hasil panen,” jelasnya.
Ia menambahkan, penelitian tersebut juga akan membandingkan pola pengairan yang selama ini diterapkan petani dengan teknologi pengairan berselang.
Perbandingan itu diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil produksi antara pengairan berselang dan pengairan secara terus-menerus.
“Berdasarkan beberapa penelitian yang pernah kami lakukan sejak tahun 2000, kami ingin melihat apakah teknologi pengairan berselang dan pengairan terus-menerus menghasilkan produksi padi yang sama atau berbeda,” tutur Naharia.
Ia menyebutkan, produktivitas padi varietas Serayu di lokasi penelitian berada pada kisaran 5–6 ton per hektare. Angka tersebut akan menjadi salah satu konteks dalam pengamatan hasil produksi, dengan tetap memperhatikan hasil pengukuran aktual setelah panen.
Selain kegiatan pengambilan sampel dan pengamatan tanaman, tim penelitian juga dijadwalkan mengikuti monitoring dan evaluasi (monev) oleh Project Management Office (PMO) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), pada 27 Oktober 2026 secara daring.
Naharia mengatakan, kegiatan monev direncanakan berlangsung dengan dua fokus, yakni presentasi perkembangan penelitian dan peninjauan kondisi lahan melalui dokumentasi atau tayangan langsung dari lokasi.
Dalam kegiatan tersebut, kelompok tani dan pemuda yang terlibat diharapkan tetap hadir di lahan penelitian untuk menunjukkan pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Setelah seluruh rangkaian penelitian dan panen selesai, tim akan melaksanakan diseminasi hasil penelitian. Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung di tingkat Provinsi Sulawesi Utara atau diperluas ke wilayah di luar Sulawesi Utara.
“Setelah semuanya selesai, kami akan melakukan diseminasi hasil penelitian. Kegiatannya bisa dilaksanakan di tingkat lokal Provinsi Sulawesi Utara maupun di luar Sulawesi Utara. Itu akan dilakukan setelah panen,” tandasnya.
Program Bestari Saintek 2026 diinisiasi oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Direktorat Minatsaintek) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dengan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Program ini bertujuan menjembatani hasil riset perguruan tinggi agar dapat diterapkan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Melalui pendekatan living lab atau laboratorium hidup, program tersebut mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis sains dan teknologi.
Dalam konteks penelitian di persawahan Koya, keterlibatan kelompok tani menjadi bagian penting untuk menguji penerapan teknologi pengairan, mengamati pertumbuhan tanaman, serta mengevaluasi hasil produksi padi berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
(Abner)






