Tim penelitian Bestari Saintek 2026 UNIMA dipimpin Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si., bersama Kelompok Tani Tumaar Ne Pemuda Tataaran di lokasi penelitian persawahan Jalan Raya Tondano, Minahasa. (Foto: Abner Bawinto?)
MINAHASA – Tim penelitian penerima Pendanaan Bestari Saintek 2026 Universitas Negeri Manado (UNIMA) yang dipimpin Guru Besar Fakultas Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Kebumian (FMIPAK) UNIMA, Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si., melakukan penanaman bibit padi berusia 21 hari di lokasi penelitian persawahan Jalan Raya Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Kamis (13/8/2026).
Penanaman tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam pelaksanaan penelitian bertajuk “Aplikasi Teknologi Intermittent Irrigation untuk Mitigasi Gas Metana (CH4) pada Budidaya Padi Sawah”.
Dalam kegiatan itu, Kelompok Tani (KT) Tumaar Ne Pemuda Tataaran melakukan penanaman padi pada 18 demplot yang telah disiapkan berdasarkan rancangan penelitian dan arahan tim peneliti.
Prof. Orbanus Naharia atau yang akrab disapa Prof Orba mengatakan, bibit padi yang sebelumnya disemai selama 21 hari kemudian dipindahkan ke demplot yang telah mendapatkan perlakuan sesuai rancangan penelitian.
“Hari ini kita sedang melaksanakan penanaman bibit padi di dalam demplot. Penanaman ini merupakan bagian dari rencana penelitian, karena setelah benih padi berusia 21 hari di persemaian, kita pindahkan ke demplot yang sudah ada perlakuan-perlakuan,” kata Naharia saat diwawancarai wartawan Reportase Kawanua.
Menurut Prof Orba, perlakuan dalam penelitian tersebut merupakan kombinasi antara perlakuan utama berupa sistem irigasi dan perlakuan pemupukan.Untuk sistem irigasi, tim peneliti menggunakan dua pendekatan, yakni Flooded Irrigation dan Intermittent Irrigation.
Flooded Irrigation merupakan sistem pengairan dengan kondisi lahan digenangi secara terus-menerus sejak lima hari setelah tanam hingga sekitar 75 hari. Sementara Intermittent Irrigation menerapkan pola pengairan dan pengeringan secara berkala sehingga kondisi lahan tidak terus-menerus tergenang.
“Flooded Irrigation adalah tergenang mulai dari lima hari setelah tanam sampai 75 hari, tergenang terus-menerus. Sedangkan Intermittent Irrigation yaitu dikeringkan atau dibiarkan macak-macak, kemudian dikombinasikan dengan perlakuan fertilizer atau pemupukan,” ujar Naharia.
Dalam penelitian tersebut, perlakuan pemupukan juga dibedakan berdasarkan dosis. Tim menggunakan kombinasi pupuk NPK Ponska dan Urea dengan beberapa tingkat dosis, antara lain Ponska 150 kilogram per hektare ditambah Urea 50 kilogram per hektare, Ponska 200 kilogram per hektare ditambah Urea 75 kilogram per hektare, serta Ponska 300 kilogram per hektare ditambah Urea 100 kilogram per hektare.
Naharia menjelaskan, pada saat penanaman awal belum semua perlakuan diberikan kepada tanaman.
“Pada hari ini kita melakukan penanaman, belum ada perlakuan-perlakuan lain. Hanya ditanam, selanjutnya di-stock, baru ada perlakuan pemupukan,” katanya
Setelah lima hari, lahan akan mulai diberikan perlakuan pengairan. Sementara pada petak dengan sistem Intermittent Irrigation, kondisi lahan akan dikembalikan pada keadaan macak-macak atau tidak tergenang penuh.
“Setelah lima hari kita airi dan pada hari ke-9, yang Intermittent Irrigation kita kembalikan pada keadaan macak-macak atau orang Manado sering menyebutnya becek. Di situlah kita mengukur gas metannya sampai hari ke-75,” ujar Naharia.
Pengukuran gas metana (CH4) menjadi bagian penting dalam penelitian tersebut. Sistem budidaya padi sawah dengan kondisi lahan tergenang diketahui berkaitan dengan terbentuknya gas metana. Karena itu, penelitian ini diarahkan untuk menguji bagaimana penerapan teknologi pengairan berselang dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi emisi gas metana dari lahan persawahan.
Naharia optimistis penerapan teknologi tersebut dapat memberikan informasi ilmiah mengenai hubungan antara sistem pengairan, pemupukan, dan produksi gas metana pada budidaya padi sawah.
“Kita akan melihat bagaimana kondisi gas metananya melalui perlakuan-perlakuan yang sudah dirancang,” katanya.
Dalam pelaksanaan penelitian, KT Tumaar Ne Pemuda Tataaran menjadi mitra penting bagi tim peneliti. Kelompok tani tersebut tidak hanya terlibat dalam proses penanaman, tetapi juga menjadi bagian dari pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Naharia mengapresiasi keterlibatan para petani muda yang menurut dia menunjukkan kemampuan dan tanggung jawab dalam menjalankan tahapan penelitian.
“Yang melakukan penanaman ini adalah petani-petani muda Tumaar Tataaran. Saya melakukan evaluasi, pekerjaan mereka sangat-sangat bagus,” kata Naharia.
Menurut dia, keterlibatan kelompok tani muda tersebut juga memiliki nilai sosial dan budaya karena sebagian anggotanya masih aktif dalam kegiatan Mapalus, sebuah nilai kebersamaan dan gotong royong yang telah lama hidup dalam masyarakat Minahasa.
“Petani-petani muda ini juga sering terlibat di kegiatan-kegiatan Mapalus,” ujarnya.
Dalam kegiatan penanaman tersebut, Prof Orba turut didampingi Humas UNIMA Drs. Titof Tulaka, S.Th., S.H., M.AP., bersama sejumlah anggota tim penelitian, yakni Dr. Helen J. Lawalata, M.Si., Dr. Ir. Marthy L.S. Taulu, M.Si., Dr. Utari Satiman, S.P., M.Si., Ever Kamito Kajo, S.Pd., serta Tirza Selfin Korneles, S.Pd., M.Si.
Naharia mengatakan, keterlibatan Titof Tulaka dalam kegiatan lapangan juga memiliki kaitan dengan kajian mengenai nilai Mapalus.
“Hari ini kita juga kedatangan seorang peneliti yang meneliti tentang Mapalus, yaitu Humas UNIMA Drs. Titof Tulaka, S.Th., S.H., M.AP. Penelitian ini sinkron dengan jiwa dan semangat Mapalus yang ada pada petani muda yang sadar bahwa mereka bekerja bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain,” kata Naharia.
Ia menilai semangat kerja bersama yang ditunjukkan para petani dapat menjadi kekuatan dalam mendukung keberlanjutan penelitian berbasis masyarakat.
Bagi tim penelitian, keterlibatan petani bukan sekadar membantu pekerjaan teknis di lapangan. Lebih dari itu, kemitraan tersebut diharapkan mampu mempertemukan pendekatan ilmiah dengan pengetahuan dan praktik pertanian yang telah berkembang di tengah masyarakat.
Di tengah pelaksanaan penelitian, tim juga menghadapi tantangan kondisi cuaca. Naharia mengatakan, periode panas yang berlangsung cukup panjang menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam pelaksanaan penelitian di lahan persawahan.
Menurut dia, kondisi tersebut tidak terlepas dari dampak perubahan iklim dan pemanasan global yang semakin dirasakan dalam sektor pertanian.
“Saat ini yang menjadi tantangan adalah cuaca panas yang panjang akibat implikasi pemanasan global yang mengakibatkan kekeringan yang berkelanjutan. Bagaimana kita mengatasi pemanasan global ini,” kata Naharia.
Kondisi tersebut sekaligus memperkuat urgensi penelitian mengenai sistem pengairan alternatif pada lahan sawah. Ketika ketersediaan air menjadi semakin tidak menentu, teknologi pengelolaan air yang efisien menjadi salah satu kebutuhan penting bagi keberlanjutan produksi pertanian.
Melalui 18 demplot yang telah disiapkan, tim penelitian Bestari Saintek UNIMA akan melakukan pengamatan dan pengukuran terhadap sejumlah parameter sesuai rancangan penelitian. Salah satu indikator utama yang diamati adalah emisi gas metana dari lahan sawah pada berbagai perlakuan pengairan dan pemupukan.
Hasil penelitian tersebut diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghasilkan pendekatan teknologi yang dapat diterapkan oleh petani untuk mendukung budidaya padi yang lebih efisien dalam penggunaan air sekaligus berorientasi pada mitigasi perubahan iklim.
Dengan keterlibatan peneliti, petani muda, dan masyarakat, pelaksanaan penelitian ini juga memperlihatkan bagaimana inovasi berbasis sains dan teknologi dapat dikembangkan melalui kolaborasi langsung di tingkat lapangan.
(Abner)









