Ketua Tim Peneliti Bestari Saintek 2026 UNIMA, Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si., menjelaskan skema intermittent irrigation kepada tim penelitian di lokasi demoplot, Minahasa kepada KT Tumaar Ne Pemuda di lokasi demoplot penelitian. (Foto: Abner Bawinto)
MINAHASA – Penelitian penerima Pendanaan Bestari Saintek 2026 Universitas Negeri Manado (UNIMA) yang dipimpin Guru Besar Fakultas Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Kebumian (FMIPAK) UNIMA, Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si., bersama Kelompok Tani (KT) Tumaar Ne Pemuda, memasuki tahap persiapan penanaman padi.
Sebanyak 18 demplot (demonstration plot) telah disiapkan oleh tim penelitian bersama kelompok tani di lokasi penelitian di persawahan jI. Raya Tondano, Kabupaten Minahasa pada Sabtu (9/8/2026).
Setelah penyelesaian demplot, Prof. Orbanus Naharia yang akrab disapa Prof Orba memberikan penjelasan kepada anggota KT Tumaar Ne Pemuda mengenai penerapan intermittent irrigation atau sistem irigasi berselang dalam budidaya padi sawah.
Menurut Prof Orba, teknologi tersebut merupakan pola pengaturan air dengan menerapkan siklus basah dan kering (wet-dry cycles) pada lahan sawah
“Konsepnya adalah mengatur air secara berselang. Jadi, lahan tidak terus-menerus digenangi, tetapi ada periode diairi dan ada periode dikeringkan. Pola ini penting untuk menciptakan kondisi tanah yang lebih terkontrol sekaligus menjadi bagian dari upaya mitigasi emisi gas metana atau CH4 dari lahan sawah,” jelas Prof Orba.
Berdasarkan pola yang dijelaskan kepada kelompok tani, pengaturan air dilakukan secara bertahap sejak padi ditanam hingga menjelang panen.
Pada hari ke-0 sampai hari ke-9, lahan berada dalam kondisi diairi (irrigated). Selanjutnya, pada hari ke-9 sampai hari ke-15, lahan dikondisikan kering atau drainase (drained).
Kemudian, lahan kembali diairi pada hari ke-15 sampai hari ke-29, sebelum kembali memasuki periode pengeringan pada hari ke-29 sampai hari ke-40.
Setelah itu, pengairan kembali dilakukan pada hari ke-40 hingga hari ke-70. Memasuki hari ke-70 sampai masa panen, lahan kembali dikondisikan dalam keadaan kering.
“Jadi, bukan sepanjang waktu sawah harus tergenang. Kita mengatur kapan lahan membutuhkan air dan kapan harus dikeringkan. Siklus basah dan kering inilah yang menjadi prinsip utama intermittent irrigation,” kata Prof Orba.
Prof Orba mengatakan, pada tahap persiapan saat ini, pengairan dilakukan untuk membantu membuat kondisi tanah menjadi lebih lunak sehingga lebih siap untuk proses penanaman.
“Tanah yang disiram air ini tujuannya agar kondisi tanah dalam demplot menjadi lebih lembek dan mudah diolah. Dengan kondisi tanah yang sesuai, proses persiapan menuju penanaman padi dapat dilakukan dengan lebih baik,” ujarnya.
Selain persiapan kondisi tanah, pengelolaan air juga diarahkan untuk membantu mengendalikan pertumbuhan gulma di lahan.
Menurut Prof Orba, penerapan teknologi tersebut harus dilakukan secara terukur dan mengikuti tahapan pertumbuhan tanaman. Pengaturan air tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan tanaman terhadap air, tetapi juga menjadi bagian dari pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman padi.
Sementara itu, Prof Orba menjelaskan bahwa bibit padi yang telah dipersiapkan saat ini telah memasuki usia sekitar 21 hingga 25 hari.
Dengan usia tersebut, bibit diperkirakan sudah siap untuk dipindahkan ke lahan dalam waktu dekat.
“Bibit yang akan ditanam berusia sekitar 21 sampai 25 hari. Jadi, diperkirakan minggu depan sudah bisa dilakukan penanaman, menyesuaikan dengan usia bibit padi,” kata Prof Orba.
Ia menambahkan, penanaman padi akan segera dilakukan setelah kondisi demplot dan bibit dinilai siap.
“Rencananya dalam waktu dekat kita segera melakukan penanaman padi karena sudah sesuai dengan usia bibit. Selanjutnya, penerapan pola pengairan akan mengikuti jadwal yang telah disiapkan,” ujarnya.
Penelitian Bestari Saintek 2026 tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengelolaan budidaya padi, tetapi juga menguji penerapan teknologi intermittent irrigation sebagai salah satu pendekatan untuk mitigasi gas metana (CH4) pada ekosistem sawah.
Melalui keterlibatan kelompok tani, teknologi tersebut diharapkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat dipahami dan diterapkan oleh petani dalam praktik budidaya padi secara berkelanjutan.
(Abner)






