Tim Riset UNIMA Program Bestari Saintek 2026 bersama Kelompok Tani Tumaar Ne Pemuda saat rapat persiapan pelaksanaan penelitian di FMIPAK UNIMA, Minahasa, Selasa (5/5/2025). (Foto: Tirza Selfin)
Aplikasi Teknologi Intermittent Irrigation untuk Mitigasi Gas Metana (CH4) pada Budidaya Padi Sawah.MINAHASA – Tim Penelitian penerima Pendanaan Bestari Saintek 2026 yang menjadi satu-satunya perwakilan dari Sulawesi Utara mulai mematangkan langkah pelaksanaan program. Tim yang diketuai Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si itu menggelar rapat persiapan di Ruang Rapat Fakultas Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Kebumian (FMIPAK) Universitas Negeri Manado (UNIMA), Selasa (5/5/2025) siang.
Rapat yang berlangsung sejak pukul 13.30 WITA tersebut menjadi momentum awal untuk menyelaraskan strategi penelitian, mulai dari aspek teknis hingga kolaborasi lintas sektor yang akan terlibat dalam program nasional tersebut.
Dekan FMIPAK UNIMA, Prof. Dr. Mokosuli Yermia Semuel, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi UNIMA, mengingat penelitian tersebut merupakan satu-satunya yang lolos pendanaan Bestari Saintek 2026 dari Sulawesi Utara.
Ia menyampaikan bahwa Rektor UNIMA, Dr. Joseph Kambey, S.E., Ak., MBA., memberikan dukungan penuh terhadap penelitian yang dipimpin Prof. Orbanus Naharia. Menurutnya, riset tersebut tidak hanya berdampak secara akademik, tetapi juga strategis dalam meningkatkan kinerja institusi.
“Penelitian ini akan berkontribusi langsung terhadap berbagai indikator kinerja utama (IKU) Rektor UNIMA. Beberapa poin kinerja yang akan terdorong antara lain sitasi ilmiah, keberlanjutan (sustainable development), hingga kemitraan dengan masyarakat,” ujar Mokosuli.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberhasilan ini menjadi bukti kapasitas riset UNIMA di tingkat nasional. Dengan pengalaman yang dimiliki Prof. Orbanus Naharia sebagai peneliti senior, ia optimistis penelitian ini mampu mengangkat reputasi kampus.
“Ini merupakan anugerah yang patut disyukuri. Banyak peneliti yang mengajukan proposal, namun hanya satu yang terpilih dari Sulawesi Utara. Ini tentu menjadi berkat bagi UNIMA,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada tim peneliti karena riset tersebut turut mendukung capaian kinerja tidak hanya di FMIPAK, tetapi juga Fakultas Teknik UNIMA.
Dalam pemaparannya, Prof. Orbanus Naharia menjelaskan secara rinci arah penelitian yang mengusung judul Aplikasi Teknologi Intermittent Irrigation untuk Mitigasi Gas Metana (CH4) pada Budidaya Padi Sawah.
Penelitian ini difokuskan pada penerapan teknologi irigasi berselang (intermittent irrigation) sebagai solusi untuk menekan emisi gas metana yang dihasilkan dari lahan persawahan, sekaligus menjaga produktivitas pertanian.
Ia memaparkan konsep End-of-Line (EoL) Living Lab dalam Program Bestari Saintek 2026 yang akan menjadi pendekatan utama penelitian. Dalam skema tersebut, berbagai aspek dianalisis secara komprehensif, mulai dari perumusan masalah hingga solusi implementatif di lapangan.
“Pendekatan yang digunakan mencakup root cause analysis melalui fishbone diagram. Kami melihat faktor teknologi dan infrastruktur, aspek manusia dan perilaku sosial, proses dan tata kelola, hingga ekonomi serta kebijakan pendukung,” jelasnya.
Tak hanya itu, desain proses dan model aplikasi teknologi intermittent irrigation juga dijelaskan secara detail, termasuk penggunaan chamber box sebagai alat untuk mengukur emisi gas metana di lahan sawah.

Sementara itu, perwakilan kelompok tani yang turut dilibatkan dalam penelitian, Pengurus Inti Kelompok Tani (KT) Tumaar Ne Pemuda, Risko Langitan, menilai rapat tersebut sangat penting untuk memastikan kesiapan seluruh pihak.
“Rapat hari ini menjadi langkah koordinasi penting untuk menindaklanjuti program ini secara maksimal. Mengingat ini satu-satunya penelitian dari Sulawesi Utara, maka persiapannya harus benar-benar matang agar berjalan sesuai timeline,” ujar Risko.
Ia juga berharap penelitian ini mampu memberikan dampak nyata bagi sektor pertanian, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan di daerah.
“Harapan kami, penelitian ini tidak hanya berhenti pada kajian, tetapi benar-benar memberikan kontribusi nyata. Kami ingin hasilnya bisa dimanfaatkan oleh Pemerintah Kabupaten Minahasa dalam meningkatkan produktivitas pertanian padi sekaligus mendukung ketahanan pangan,” katanya.
Menurut Risko, kolaborasi antara UNIMA, tim peneliti, dan kelompok tani menjadi kunci keberhasilan implementasi riset di lapangan. Ia optimistis, dengan sinergi yang kuat, hasil penelitian ini dapat selaras dengan program prioritas nasional, termasuk penguatan ketahanan pangan.
Dengan dimulainya tahap persiapan ini, diharapkan Program Bestari Saintek 2026 yang diusung tim UNIMA dapat berjalan optimal dan memberikan kontribusi signifikan, tidak hanya bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga bagi masyarakat luas, khususnya sektor pertanian di Sulawesi Utara.
Dalam kesempatan ini turut di hadiri oleh, Dekan Fakultas Teknik UNIMA, Dr, Hendro Maxwel Sumual, ST, M.Eng. M.Pd, Kepala Biro Perencanaan, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat UNIMA, Vivi W. Saroinsong, MAP., para anggota tim peneliti, serta Kelompok Tani Tumaar Ne Pemuda.
(Abner)






