MINAHASA – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Manado (UNIMA) menggelar Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) Tahun 2026.
Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung LPPM UNIMA lantai II, Rabu (7/10/2026).
Monev dilakukan sebagai bagian dari evaluasi pelaksanaan Program Bestari Saintek yang berada di bawah Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Saat membuka kegiatan Monev Internal Bestari Saintek 2026, Kepala LPPM UNIMA, Dr. Armstrong Sompotan, S.Si., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada tim peneliti yang telah melaksanakan program sesuai dengan rencana dan target yang telah ditetapkan.
Armstrong mengungkapkan, pelaksanaan Monev menjadi momentum penting untuk melihat sejauh mana program Bestari Saintek telah berjalan, sekaligus memastikan setiap tahapan kegiatan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan administratif.
“Kami memberikan apresiasi kepada tim peneliti Bestari Saintek yang telah bekerja dan melaksanakan program ini dengan baik. Monev ini penting untuk memastikan bahwa kegiatan yang direncanakan benar-benar dilaksanakan sesuai dengan target dan ketentuan yang telah ditetapkan,” ujar Armstrong.
Armstrong menjelaskan, LPPM UNIMA tidak hanya melihat capaian dari sisi pelaksanaan kegiatan, tetapi juga memperhatikan manfaat dan keberlanjutan teknologi yang dihasilkan bagi masyarakat dan mitra.
Menurut dia, keterlibatan Pemerintah Kabupaten Minahasa dan Kelompok Tani Tumaar Ne Pemuda menunjukkan bahwa program Bestari Saintek telah membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat.
Armstrong menegaskan, hasil penelitian dan pengembangan teknologi harus dapat memberikan dampak nyata. Karena itu, LPPM UNIMA mendorong agar teknologi yang dihasilkan melalui program tersebut dapat terus dikembangkan dan diimplementasikan dalam skala yang lebih luas.
“Kami berharap hasil dari program ini tidak berhenti pada kegiatan penelitian dan percontohan saja, tetapi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dapat dikembangkan bersama mitra secara berkelanjutan,” katanya.
Armstrong menuturkan, keberhasilan program juga harus didukung dengan tertib administrasi dan penggunaan anggaran yang sesuai dengan rencana. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga akuntabilitas pelaksanaan program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan UNIMA.
Ia berharap capaian yang telah diperoleh Tim Bestari Saintek UNIMA dapat menjadi dasar untuk memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah dan mitra lainnya, termasuk dalam pengembangan teknologi pertanian yang mendukung keberlanjutan lingkungan serta mitigasi perubahan iklim.
Saat diwawancarai, Ketua Tim Bestari Saintek UNIMA, Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si., mengatakan Monev Internal Tahun 2026 menjadi evaluasi pertama yang dilakukan UNIMA terhadap pelaksanaan Program Bestari Saintek.
Menurut dia, hasil evaluasi menunjukkan pelaksanaan program berjalan baik dan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dalam kontrak.
“Ini pertama kali UNIMA melaksanakan Monev Bestari Saintek. Hasil pemeriksaan bagus karena pelaksanaan Bestari Saintek UNIMA sesuai dengan RAB yang ada dalam kontrak,” ujar Orbanus.
Ia mengatakan, kegiatan Monev juga dihadiri mitra utama dan mitra pendukung program.
“Mitra utama kami adalah Pemerintah Kabupaten Minahasa dan mitra pendukungnya Kelompok Tani Tumaar Ne Pemuda,” katanya.
Orbanus menjelaskan, keterlibatan pemerintah daerah dan kelompok tani menjadi bagian penting dalam memastikan teknologi yang dikembangkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat diterapkan di lapangan.
Menurut Orbanus, Pemerintah Kabupaten Minahasa telah menunjukkan ketertarikan untuk mengadopsi teknologi tersebut dan menerapkannya kepada petani di sejumlah wilayah di Kabupaten Minahasa.
Sementara itu, kelompok tani mitra akan mengimplementasikan teknologi tersebut dalam budidaya padi sawah pada lahan percontohan.
“Pemda Kabupaten Minahasa mengadopsi teknologi ini untuk petani di beberapa wilayah di Kabupaten Minahasa. Kemudian dari sisi petani, teknologi ini akan diimplementasikan untuk budidaya padi sawah di lahan percontohan,” jelasnya.
Ia mengatakan, salah satu capaian penting dalam Monev Internal adalah meningkatnya pemahaman Kelompok Tani Tumaar Ne Pemuda terhadap aplikasi teknologi dan metode pengambilan sampel gas metana.
Kelompok tani tersebut dinilai telah memahami penggunaan teknologi sekaligus manfaatnya dalam mendukung upaya mitigasi gas rumah kaca dari aktivitas budidaya padi sawah.
“Kelompok Tani Tumaar Ne Pemuda memahami dan menguasai aplikasi teknologi serta metode pengambilan sampel gas metana,” ujar Orbanus.
Menurut dia, pemahaman tersebut penting karena emisi gas metana dari lahan sawah menjadi salah satu persoalan yang berkaitan dengan perubahan iklim.
“Petani mitra utama dan mitra pendukung sangat memahami manfaat teknologi, terutama untuk mitigasi gas rumah kaca, khususnya gas metana dari budidaya padi sawah,” katanya.
Dalam evaluasi tersebut, Orbanus juga menyampaikan bahwa penggunaan anggaran program telah mencapai sekitar 80 persen.
Menurut dia, kelengkapan laporan penggunaan anggaran menjadi salah satu hal yang mendapat apresiasi dalam pembahasan Bestari Saintek.
“Dalam rapat Bestari Saintek, nama UNIMA disebut karena penggunaan dana sudah mencapai 80 persen dan mendapat apresiasi karena laporan penggunaan anggarannya sudah sangat lengkap,” ungkap Orbanus.
Ia menilai kelengkapan administrasi dan kesesuaian penggunaan anggaran dengan rencana kegiatan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program penelitian dan pengabdian berbasis sains dan teknologi.
Orbanus berharap kerja sama antara UNIMA dan para mitra, khususnya Pemerintah Kabupaten Minahasa, dapat terus berlanjut setelah program Bestari Saintek selesai.
Ia menegaskan, UNIMA siap memberikan pendampingan apabila teknologi tersebut mulai diterapkan oleh pemerintah daerah dalam skala yang lebih luas.
“Harapan kami, kerja sama UNIMA dengan mitra, terutama Pemda, akan terus berlanjut. Ketika implementasi teknologi itu dilakukan oleh Pemda, UNIMA siap mendampingi,” ujarnya.
Ia mengatakan, pendampingan diperlukan untuk memastikan teknologi dapat diterapkan secara tepat sekaligus dikembangkan sesuai kebutuhan di lapangan.
“UNIMA selalu siap mendampingi untuk mengawal aplikasi teknologi,” katanya.
Orbanus berharap penerapan teknologi tersebut nantinya tidak hanya terbatas di Kabupaten Minahasa, tetapi dapat diperluas ke wilayah lain di Sulawesi Utara.
“Kami berharap teknologi ini dapat dilakukan pada skala yang lebih luas, tidak saja di Kabupaten Minahasa, tetapi juga di Sulawesi Utara,” tuturnya.
Selain itu, ia berharap terdapat dukungan pendanaan lanjutan pada tahun anggaran berikutnya sehingga pengembangan dan pengujian teknologi terkait intermittent irrigation atau irigasi berselang dapat terus dilakukan.
“Kami sangat berharap ada pekerjaan lanjutan dan dana lanjutan di tahun anggaran berikutnya untuk melanjutkan pengujian beberapa teknologi yang berkaitan dengan intermittent irrigation,” pungkasnya.
(Abner)




