
TOMOHON – Pemilihan Pelayan Khusus (Pelsus), Penatua dan Diaken, di lingkup Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) yang akan dilaksanakan Jumat 16 Oktober 2026 besok, menjadi momentum penting bagi kehidupan bergereja. Bukan sekadar memilih sosok untuk mengemban tanggung jawab pelayanan, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan iman dalam menjawab panggilan Tuhan Yesus Kristus.
Menjelang pelaksanaan pesta iman tersebut, kandidat kuat Ketua BPMS GMIM, Pdt. Dr. Hendry Runtuwene, STh, MSi, menyampaikan pesan penuh makna bagi seluruh jemaat yang akan mengikuti proses pemilihan. Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar, aman, tertib, serta dilandasi doa, kasih, dan semangat persaudaraan.
Menurutnya, pemilihan Penatua dan Diaken tidak seharusnya dipandang sebagai ajang persaingan untuk mendapatkan kedudukan. Sebaliknya, proses ini harus dimaknai sebagai kesempatan bagi jemaat untuk memilih orang-orang yang bersedia memberikan diri dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama.
“Yang terpilih hendaknya kita terima dalam iman sebagai bagian dari kehendak Tuhan Yesus, dan mereka yang terpilih harus memiliki kesediaan hati untuk melayani sebagai hamba,” demikian pesan yang menjadi pengingat bagi jemaat dalam menyambut pemilihan Pelsus tersebut.
Sebab, menjadi Penatua dan Diaken bukan hanya soal jabatan, kehormatan, atau kepercayaan dari sesama manusia. Di balik tugas pelayanan itu, terdapat tanggung jawab iman yang harus dijalankan dengan ketulusan, kerendahan hati, dan kesetiaan.
Seorang pelayan Tuhan tidak hanya dibutuhkan ketika berdiri di depan jemaat atau memimpin ibadah. Ia juga dipanggil untuk hadir ketika ada anggota jemaat yang berduka, mereka yang sakit, menguatkan mereka yang sedang menghadapi pergumulan, serta menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatan.
Pesan Pdt Hendry ini sekaligus mengingatkan bahwa pelayanan bukan tentang siapa yang paling dihormati, melainkan siapa yang paling bersedia merendahkan hati untuk melayani.
Karena itu, seluruh jemaat diharapkan tetap menjaga persatuan dan persaudaraan, apa pun hasil pemilihan nantinya. Perbedaan pilihan tidak boleh menjadi alasan untuk membangun tembok pemisah, apalagi merusak persekutuan yang selama ini telah dibangun bersama.
Pada akhirnya, pesta iman ini bukan semata-mata tentang siapa yang terpilih dan siapa yang tidak terpilih. Lebih dari itu, ini adalah tentang bagaimana setiap orang percaya belajar menerima kehendak Tuhan, menghargai sesama, dan terus mengambil bagian dalam pekerjaan pelayanan.
“Jabatan pelayanan memiliki masa, tetapi ketulusan dalam melayani Tuhan dan sesama harus tetap hidup selamanya,” kata Pdt Hendry.
“Kiranya pemilihan Penatua dan Diaken di lingkup GMIM Jumat besok berlangsung dalam damai sejahtera, serta mereka yang terpilih dianugerahi hikmat, kekuatan, dan hati seorang hamba untuk melayani jemaat demi kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.” tutup mantan Sekum BPMS GMIM ini. (jeklymassie)

