Jadi Narasumber BBPOM Manado, Dosen Muda Pendidikan Geografi FISH UNIMA Bahas Inovasi Ramah Lingkungan. (Foto: Ist)
MANADO – Dosen muda Jurusan Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Manado (UNIMA), Fellix Rimba, S.Pd., M.Pd., menjadi narasumber dalam kegiatan Peningkatan Kompetensi Pelayanan Publik yang digelar Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Manado, Senin (31/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Courtyard by Marriott Manado, Kairagi Dua, Kecamatan Mapanget, tersebut mengusung tema “Transformasi Pelayanan Publik Digital 2026: Strategi Komunikasi Cerdas di Media Sosial dan Manajemen Komplain Prima Berbasis BerAKHLAK.”
Fellix menjadi narasumber pada sesi kedua yang berlangsung pukul 13.30–15.30 WITA. Ia membawakan materi berjudul “Optimalisasi Inovasi Ramah Lingkungan untuk Pembangunan Berkelanjutan.”
Dalam paparannya, Fellix mengawali materi dengan menjelaskan fenomena eco-anxiety, yakni kecemasan yang muncul akibat kekhawatiran terhadap berbagai persoalan lingkungan, seperti perubahan iklim, penumpukan sampah, dan kerusakan ekosistem.
Menurut Fellix, fenomena tersebut semakin mudah dirasakan masyarakat di era digital karena informasi mengenai bencana maupun kerusakan lingkungan dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial.
Namun, ia menekankan bahwa eco-anxiety tidak seharusnya berujung pada rasa putus asa.
Sebaliknya, kecemasan terhadap kondisi lingkungan dapat diarahkan menjadi energi positif melalui aksi nyata yang dimulai dari lingkungan terdekat.
“Persoalan lingkungan tidak cukup hanya dibicarakan. Harus ada aksi nyata yang bisa dimulai dari lingkungan sekitar,” kata Fellix dalam paparannya.
Ia juga mengaitkan persoalan lingkungan dengan kompetensi aparatur dalam bermedia sosial. Menurut dia, media sosial dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi lingkungan yang edukatif, faktual, dan menawarkan solusi, bukan justru menimbulkan kepanikan.
Dalam kesempatan tersebut, Fellix memaparkan tiga inovasi sederhana yang dinilai dapat diterapkan di Sulawesi Utara, yakni biopori, budidaya maggot BSF, dan penguatan bank sampah.
Inovasi pertama adalah biopori, berupa lubang resapan yang dapat diterapkan di lingkungan perkantoran, permukiman, maupun ruang terbuka.
Selain membantu meningkatkan resapan air hujan dan mengurangi potensi genangan, biopori juga dapat dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.
Menurut Fellix, penerapan biopori relevan bagi wilayah perkotaan seperti Manado yang menghadapi persoalan genangan dan banjir ketika curah hujan tinggi.
Inovasi kedua adalah budidaya maggot BSF (Black Soldier Fly) untuk mengolah sampah organik, terutama sisa makanan dari rumah tangga, pasar, dan rumah makan.
Larva BSF dapat membantu mengurai sampah organik. Hasil budidayanya juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan, sementara residu atau kasgot dapat digunakan sebagai pupuk organik.
Inovasi ketiga adalah penguatan bank sampah sebagai bagian dari gerakan pemberdayaan masyarakat.
Melalui pemilahan dan pengelolaan sampah anorganik, masyarakat tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi volume sampah, tetapi juga dapat memperoleh manfaat ekonomi.
Fellix mendorong instansi pemerintah untuk turut menjadi contoh dengan mengembangkan bank sampah di lingkungan perkantoran masing-masing.
Menurut dia, ketiga inovasi tersebut dapat saling melengkapi dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi.
Biopori dan maggot BSF dapat diarahkan untuk menangani sampah organik, sedangkan bank sampah berperan dalam pengelolaan sampah anorganik.
“Kalau dilakukan secara bersama-sama, pengelolaan sampah tidak hanya berhenti pada pembuangan, tetapi dimulai dari pemilahan, pengolahan, sampai menghasilkan manfaat kembali,” ujar Fellix.
Sesi yang menghadirkan Fellix merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peningkatan kompetensi pelayanan publik BBPOM di Manado.
Selain Fellix, kegiatan tersebut juga menghadirkan Davied Vierronica dari Daya Inspiring People sebagai narasumber pada sesi pertama dengan materi mengenai Complain Handling Service.
Kegiatan diisi dengan pemaparan materi, diskusi interaktif, tanya jawab, studi kasus, dan simulasi.
Melalui kegiatan tersebut, aparatur BBPOM di Manado diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dalam memberikan pelayanan publik yang profesional, adaptif, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.
Kegiatan dibuka oleh Kepala BBPOM di Manado, Hermanto, S.Si., Apt., MPPM. Dalam kegiatan tersebut juga ditekankan penerapan Core Values ASN BerAKHLAK yang meliputi Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif dalam pelaksanaan tugas pelayanan publik.
Kehadiran Fellix Rimba sebagai akademisi muda UNIMA dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari keterlibatan perguruan tinggi dalam memberikan gagasan dan inovasi yang berkaitan dengan persoalan lingkungan serta pembangunan berkelanjutan di daerah.
(Abner)

